Category: Writing Marathon

August 13, 2018 by [email protected] 1 Comment

bab 4 (Balada Anak pondok) #5

“nggak perlu kamu jawab, aku sudah catat namamu. Nanti habis sholat shubuh, kamu tunggu saja panggilan dari dewan santri. Oke?” kak rohis berlalu dari hadapanku.

Haduh… aku nggak menyangka aku akan ketahuan seperti ini. Aku tak pandai membaca situasi. Dengan napas ngos-ngosan, aku mengendap-endap masuk ke kamarku. Aku telah ketahuan melanggar aturan, sanksi apakah yang akan aku terima nanti?

Aku masuk kembali ke kamarku. Di dalam kamar, teman-temanku yang habis selesai melaksanakan qiyamul lail memandangku sambil tersenyum senyum. Mereka pasti tahu aku mencoba kabur tapi balik lagi, karena semalam pas musrif yang jaga berpatroli, tentu sudah tak menemukan aku dikamar ini.

==== ** =====

Akhirnya yang ditunggu itupun datang juga. Sehabis sholat shubuh di masjid, kemudian dilanjutkan penugmuman-pengumuman, dipanggillah oleh para musrif yang jaga dengan memegang mike suara : kepada nama-nama santri yang dipanggil dibawah ini, harap segera menghadap ke dewan santri bagian masing-masing. Ada berapa nama yang dipanggil, sekitar delapan anak, dan salah satunya adalah namaku, yang diharap segera menghadap ke dewan urusan santri.

Dengan langkah dag dig dug, aku berjalan melangkah menuju ruang dewan santri.

“assalamualaikum “ aku mengetuk daun pintu yang terbuka.

“wa alaikumsalam, masuk!” jawab ustadz Ahmad, ustadz bagian urusan santri.

Aku melangkah masuk. Di dalam telah menunggu ustadz Ahmad. Aku berdiri di depan beliau yang langsung menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku merasa seperti orang yang akan segera diadili. Jantungku dag dig dug nggak karuan.

“oh, kamu rupanya ya… yang namanya Ammar.” Ustadz Ahmad berdiri sambil membawa sebuah buku sanksi, di cover buku itu jelas jelas tertulis namaku.

“kamu kenapa dipanggil kemari? Kamu tahu kamu telah melakukan kesalahan apa?” tanya ustad.

“saya… saya.. ketahuan melompat pagar, ustadz.. “ jawabku dengan suara parau karena ketakutan.

“Kamu tahu, hukumannya apa bagi santri yang ketahuan habis kabur?” tanyanya.

“ti.. tidak ustadz.. maksud saya…” aku terbata menjawabnya.

“tidak usah dijawab. Tapi kamu sudah tahu kan apa hukuman bagi santri yang mencoba kabur, atau keluar dari lokasi pondok tanpa izin dari petugas jaga? Atau ketahuan melompat pagar asrama? Tahu tidak hukumannya apa? Ketika mos dulu, sudah dijelaskan bukan? Kamu masih ingat tata tertib dan peraturan di pondok ini? “ tanya ustad lagi.

Aku mengangguk. “ya, ustadz…”

“bagus… kamu sudah tahu sekarang… apa hukumannya?” tanya ustad

Dengan muka memerah aku menjawab ragu, “digunduli.”

“apa?” ustadz bertanya kembali.

“digunduli, tadz… dibotakin…” jawabku masih parau.

“bagus… “ jawab ustadz dan langsung mengambil gunting dari atas meja, lalu meraih peciku, mengambil peci itu dari kepalaku, lalu menyerahkan peci itu padaku. Aku menerima peciku dalam keadaan terbuka di tanganku.

Ustadz Ahmad meraih rambut di kepalaku lalu dengan tanpa ampun beliau menggunting tanpa aturan.. kresh,., kresh…

Potongan-potongan rambut itu lalu ditaruh ustadz didalam peci yang berada ditanganku keadaan terbuka. Lalu dengan cekatan ustadz membabat rambutku tanpa ampun, digunting dengan sangat pendek sekali tanpa alur yang jelas, asal pendek saja, semakin pendek semakin bagus mungkin, dan segera saja, peciku penuh berisi potongan-potongan rambutku. Entah, sudah seperti apa wajahku sekarang. Disini tidak ada cermin. Aku tak tahu bagaimana wajahku saat ini.

Setelah puas menggunting sesuka hati, ustadz Ahmad berteriak, “sudah. Sana kembali ke asrama. Dan jangan coba-coba mengulangi kesalahan yang sama.”

Aku mencium punggung tangan ustadz lalu mohon diri. Aku keluar ruangan dengan wajah gontai. Duh, seperti apa mukaku sekarang yaa? Duh, rambutku kini telah habis, nggak Cuma habis, tapi ini cukuran sama sekali tidak rapi. Aku menatap sedih guntingan-guntingan rambut di dalam peci yang ada di tanganku. Duh… rambutku.. bisa di lemlagi nggak sih biar menyatu?

August 13, 2018 by [email protected] 1 Comment

bab 5 (Balada Anak Pondok)

Ketika aku keluar ruangan itu, beberapa santri yang melihatku tersenyum mengejek, bahkan ada yang tertawa terbahak-bahak. Tapi aku diam saja, aku yakin, dengan berlalunya waktu, mereka akan biasa saja melihatku. Disini adalah pemandangan yang biasa melihat santri gundul. Bahkan sebagian besar santri semua pernah merasakannya, kini tiba giliranku.

Aku termangu di depan sebuah tong sampah, aku harus membuang rambutku ini. Tapi kemudian, seorang teman yang lewat di dekatku mengambil rambut di peciku lalu langsung menaruhnya di tong sampah di depanku ‘’halah… tinggal buang aja kenapa sih ragu-ragu… masih sayang sama rambutmu? Ya udah di lem sana gih…” teriaknya sambil terbahak.

Aku bersungut-sungut. Ya, Allah… kuatkan hambamu ini… Aku buang semua rambut dan membersihkan peci ku dari kumpulan potongan rambut itu.. lalu segera berlari menuju kamarku.

Aku segera memasuki kamarku dan langsung disambut dengan tawa teman-teman sekamar. “akhirnya kamu digundulin juga.” Kata seorang temanku. Ya, disini sudah biasa melihat banyak santri gundul. Bahkan banyak yang sudah berkali-kali digundulin.

Teman-teman menggodaku, anehnya, aku sama sekali tidak marah. Bahkan meladeni canda tawa mereka. Yaa.. canda tawa, dan keakraban mereka, sahabat-sahabat sekamarku. Lalu seorang teman merapikan rambutku, dengan sebuah pisau cukur agar rapi, tidak acak-acakan seperti orang gila. Karena potongan rambut dengan gunting membuat pitak disana sini, akhirnya, dengan pisau cukur, diplontos sekalian, sehingga kini kepalaku benar-benar gundul tanpa sehelai rambutpun. Licin. Kata temanku, asyik bisa irit nggak usah pakai shampo kalau keramas.

 

BAB 5

SEPULUH TAHUN KEMUDIAN

Hari ini adalah stadium general, hari pertama masuk sekolah di awal tahun ajaran baru di di pondok pesantren ini. Dan di hadapan ratusan santri baru yang baru saja masuk di pondok pesantren tahfidz quran ini, diatas podium berdirilah seorang ustadz muda, yang baru saja lulus dari sebuah universitas ternama di Mesir. Ustadz muda dengan wajah bersih berseri, lulus S1 dengan predikat cumlaude, sebuah amunisi dan kekuatan baru yang akan memperkuat pondok pesantren tahfidz ini.

“assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh” salam pak ustadz dengan takzim. “wa alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh.” Gemuruh para santri menjawab.

Ahlan, wa Sahlan, kami ucapkan selamat datang kepada seluruh para santri baru di pondok pesantren tahfidz ini, selamat telah masuk kedalam dunia pesantren, sebuah pilihan yang sangat tepat, dan apa yang kalian rasakan anak-anakku? Masih adakah yang galau, yang bimbang dengan keputusannya untuk masuk dan menimba ilmu disini, masuk dalam deretan para penjaga hafalan quran? Yang merasa galaunya anak pondok ketika awal-awal masuk ke pondok adalah hal yang sangat umum, sangat biasa. Ini adalah kisah tentang perjuangan dan kebersamaan, kisah yang ditorehkan dalam kenangan anak-anak pesantren. Namun jangan khawatir, karena kisah ini tidak akan berakhir sampai disini. “

Ya, kisah itu memang tidak akan berakhir sampai disini. seorang ustadz muda, yang baru saja lulus dari sebuah universitas ternama di Mesir. Ustadz muda dengan wajah bersih berseri, lulus S1 dengan predikat cumlaude, sebuah amunisi dan kekuatan baru yang akan memperkuat pondok pesantren tahfidz ini, adalah ustadz Ammar namanya, seorang santri yang kisahnya tertulis dalam sebuah novel Balada Anak Pondok, yang telah tamat kalian baca ini. Meski begitu, kisah itu memang tidak akan berakhir sampai disini, karena sesungguhnya, perjuangan yang sebenarnya baru akan dimulai.

==== Tamat ======

August 13, 2018 by [email protected] 0 Comments

Juara Hati Mama (JUARA HATI MAMA)

Sehari sebelum hari festival ulang tahun sekolah, semua anak sudah bersiap dengan segala keperluan masing-masing untuk mengikuti berbagai macam lomba. Ada lomba menggambar, mewarnai, menyanyi, menghias kelas, pidato, dance, masih banyak lagi, termasuk lomba bela diri karate dan taekwondo. Pada hari ini di aula sekolah, anak-anak yang akan mengikuti pertandingan bela diri taekwondo dikumpulkan pukul 16:00. Saboeum akan memastikan bahwa anak-anak didik ekskul taekwondo-nya tersebut masih sehat, semangat dan penuh energi untuk besok. Ia kembali mengulang semua pelajaran yang akan dijadikan materi lomba,

Aku duduk di samping aula sambil terus melihat adikku yang penuh semangat. Sambil duduk aku melahap sepotong roti yang masih menjadi sisa bekalku dari rumah tadi siang. Abyan dengan semangat berlatih, mengikuti gerakan saboeum dengan penuh antusias. Abyan juga mencoba untuk mengingat-ingat kembali pelajaran yang sudah diberikan, agar bisa menguasai semua gerakan-gerakan taekwondo yang telah diajarkan.

Festival Ulang Tahun Sekolah juga akan diikuti oleh beberapa sekolah yang ada di kotaku. Jadi semakin menambah seru acaranya nanti. Anak-anak peserta lomba jadi makin terpacu untuk memberikan yang terbaik.

Pokoknya, yang akan jadi perwakilan sekolah kita untuk dikirim ke pertandingan taekwondo tingkat kota nanti itu harus aku! Gak boleh Abyan! Aku harus melakukan sesuatu agar Abyan yang sok tahu itu tidak jadi ikut lomba. Karena selama ini, aku lihat, teknik bela diri Abyan jadi semakin bagus, ah.., aku tidak boleh kalah. Aku harus lebih baik daripada si anak bodoh itu! Hhmm…, aku puny ide cemerlang!” seru Ryan dalam hatinya.

“Siapapun perwakilannya nanti, pokoknya sekolah kita harus menjadi yang terbaik dan berhasil memenangkan lomba ini, untuk dilombakan tingkat kota. Tujuan kita satu, siapapun perwakilannya, kita harus saling menghargai, karena tujuan kita semua adalah membanggakan sekolah ini. Setuju?” ujar saboeum.

“SETUJU….!” jawab anak-anak.

Kemudian, mereka kembali berlatih. Setelah 30 menit kemudian, mereka pulang ke rumah masing-masing. Aku segera menghampiri Abyan yang masih saja berbincang-bincang dengan saboeum, pelatih taekwondo-nya.

“Abyan, pertahankan gerakanmu dan siapkan mental juga fisikmu untuk besok! Saboeum yakin, Abyan akan membanggakan sekolah kita dan membuat sekolah kita ini menjadi juara, dan masuk ke tahap lomba tingkat kota!” seru saboeum sambil mencubit pipi Abyan yang gembul.

“Iya, saboeum! Saya akan pertahankan semua itu!” jawab Abyan bangga.

Aku mendekati ke tempat Abyan dan saboeum sedang berbincang. Aku mengajak Abyan pulang. Setelah pamit kepada saboeum, kami berjalan menuju ke arah gerbang sekolah. Tetapi saat di depan gerbang sekolah…

“Eh, eh, tunggu, kak. Aku kebelet pipis nih! Tunggu, ya!” ujar Abyan sambil berlari menuju kamar mandi yang terletak di lantai 1 di dekat ruang Tata Usaha.

Aku hanya tertawa tipis, setelah itu duduk di kursi yang biasa digunakan para orang tua murid yang menunggu anaknya keluar dari sekolah atau menunggu untuk dijemput. Sambil duduk aku memandangi Abyan yang berlari masuk ke dalam lobby. Dalam hati, aku sangat bangga terhadap adikku, karena saat ini perlahan rasa percaya dirinya mulai timbul lagi. Abyan tidak lagi terpuruk dalam kesedihan karena kelainan diskalkulia yang dimilikinya. Karena ternyata masih ada bidang lain yang membuat dia bersemangat dan antusias. Semoga kelak ia bisa sukses dalam bidang yang ia minati.

Sementara itu di kamar mandi…

“Aaah, legaa..,” ujar Abyan sambil melangkah keluar kamar mandi, tapi…

Well.. well.. well.. ini dia anak yang sok pinter taekwondo..,” sahut seseorang.

“Ryan? Ngapain kamu disini?” tanya Abyan dengan nada kaget.

“Hey, aku hanya mau ngasih tau kamu, nih, ya. Sekolah kita itu, sebenarnya enggak butuh anak sok jago bela diri kayak kamu! Sebenarnya, saboeum itu berbohong. Permainan kamu tuh jelek, saboeum hanya memuji-muji kamu agar kamu tidak minder lagi dan tidak mengatakan bahwa diri kamu bodoh. Haha, padahal sih, kamu memang bodoh sebenarnya! Saboeum itu tidak sepenuhnya memuji kamu dari hati, dia hanya berbohong agar kamu tidak minder lagi, saboeum juga tidak suka kamu! Sudah deh, lebih baik kamu menyerah saja dari perlombaan ini! Saboeum akan malu kalau punya murid sepertimu. Biarkan aku yang jadi perwakilan sekolah saat ke pertandingan tingkat kota nanti!” sahut Ryan dengan pandangan sinis.

“Hah? Bohong, kamu! Aku nggak percaya. Lagipula, siapapun yang terpilih nanti, itu kan menjadi satu tujuan kita bersama untuk membanggakan sekolah dalam lomba tingkat kota nanti,” seru Abyan dengan nada agak kesal.

“Sok bijak kamu! Sudah deh, pokoknya, kamu menyerah saja dari perlombaan ini kalau kamu tidak mau membuat malu kakakmu, keluargamu, saboeum dan sekolah ini. Biar aku yang menjadi perwakilannya. Hahaha…!” seru Ryan sambil melangkah meninggalkan Abyan.

Abyan langsung terdiam. Matanya terbelalak kaget. Seketika bimbang…

 

KRIIIING! KRIIING!

Aku terbangun di pagi ini pada pukul 04:45. Sesudah mandi dan sholat subuh, aku ingin menyuruh Abyan berlatih, mengulang gerakan-gerakan yang selama ini ia pelajari dan memantapkan teknik taekwondo yang akan dibawakan oleh Abyan, sebelum ia benar-benar melakukan perlombaan taekwondo pada hari ini. Aku pastikan, Abyan sudah siap dan sudah benar-benar bisa menguasai semua gerakan-gerakan taekwondo.

“Abyann, ini hari spesialmu! Ayo, bangun! Cepaatt..!” kataku berkali-kali.

Aku tahu, Abyan pasti akan sangat bersemangat hari ini, karena ini adalah hari spesialnya. Aku berkali-kali menarik mengguncang tubuh Abyan. Aku tahu, Abyan pasti sudah bangun, tapi berusaha bersembunyi lagi di balik selimutnya.

“Kak, aku batal aja deh, ikut lombanya..,” ujar Abyan dengan nada tidak bersemangat.

Aku terbelalak kaget. Lho, padahal kan kemarin dia sudah semangat ikut! Kemarin juga sudah latihan. Ada apa lagi ini? Wah, pasti apakah ada hal lain yang tidak aku ketahui? Tidak mungkin aku membatalkan kesempatan emas adikku untuk unjuk prestasi. Aku segera menarik tangan Abyan sampai akhirnya Abyan pun terduduk lemas di samping ranjangnya.

“Kenapa lagi, sih? Masalah sama Ryan waktu itu sudah selesai, kan? Kamu teringat kejadian itu lagi? Ada apa, sih dengan kamu, cerita saja sama kakak!” ujarku.

Perlahan, raut muka Anyan berubah sedih, seolah air matanya mau keluar. Aku langsung berlari menuju kamar Mama dan Papa, setelah itu menceritakan bahwa Abyan kembali ngambek dan tidak mau mengikuti perlombaan. Papa lalu mencoba membujuk Abyan.

Abyan tetap saja sedih.

Sudah hampir jam 07.30, Abyan belum juga mandi, belum sarapan dan bahkan ia belum mau beranjak dari tempat tidurnya. Abyan memintaku untuk membatalkan semua ini. Abyan minta namanya dicoret dari daftar para siswa taekwondo yang akan mengikuti perlombaan tersebut. Mama dan Papa terus membujuk Abyan untuk ikut, memberikan semangat pada Abyan. Tetapi, tampaknya kali ini tidak berhasil. Perlombaan taekwondo akan mulai jam 09.30. Kemarin, saboeum sempat bilang, untuk anak-anak taekwondo harus sudah hadir pada pukul 08:30. Sedangkan saat ini Abyan masih di rumah. Ya ampun, bagaimana ini?

Hiks.. Hiks.. Sudahlah, Kak! Batalkan saja, batalkan!” seru Abyan.

Aku, Mama dan Papa langsung terdiam. Kami sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Mengembalikan mood Abyan memang sangat sulit. Apalagi, sebentar lagi pertandingan dimulai. Akan ada review dari saboeum sebelum memulai pertandingan. Apakah memang aku terpaksa membatalkannya? Oooh…, Abyan…

“Yah.. Abyan, padahal ini kesempatan emasmu untuk menunjukkan bahwa prestasi tidak hanya dapat diraih dengan akademik, melainkan bisa dari non akademik juga..,” ujarku.

“Sudahlah, kak, mungkin benar kata temanku, aku memang bodoh.. Aku memang…..,” perkataan Abyan terhenti.

Terdengar dering handphone Mama

Mama yang berada di dalam kamar Abyan mengambil handphone-nya yang terletak di sakunya. Tetapi, tiba-tiba matanya langsung terbelalak melihat siapa yang menelepon.

“Siapa, Ma?” tanya Papa.

“Sa-Saboeum!” jawab Mama.

Aku terbelalak. Kemudian Mama memberikan handphone-nya kepadaku, kemudian aku mengangkatnya. Aku segera menjawab panggilan dari saboeum.

“Halo, saboeum..,” ujarku.

Hey, Alsa. Abyan-nya ada? Saboeum mau berbicara dengan Abyan..,” ujar saboeum.

Aku segera memberitahu Abyan, bahwa saboeum ingin berbicara dengannya. Awalnya Abyan tidak ingin berbicara dengan saboeum. Tapi, kemudian ia merasa tidak enak dengan gurunya sendiri. Akhirnya, Abyan bersedia berbicara dengan saboeum di telepon.

Abyan? Dimana kamu? Teman-teman sudah menunggumu! Apakah kamu sibuk? Apakah sedang ada masalah? Mengapa kamu belum datang juga? Kamu harus registrasi ulang dulu, Abyan. Perlombaan akan dimulai!” seru saboeum dari seberang sana.

“Sa-saboeum. Aku gak mau ikut..,” jawab Abyan polos.

Hah? Kok begitu? Kamu sakit? Sepertinya kemarin kamu semangat sekali..,” tanya saboeum keheranan.

“Sa-saboeum berbohong sama Abyan! Saboeum sebenarnya memuji Abyan pandai bukan karena Abyan pandai dalam gerakan taekwondo kan? Sebenarnya Abyan bodoh, tapi karena saboeum tidak mau Abyan minder, saboeum membohongi Abyan dengan pujian-pujian itu! Iya kan, saboeum? Hiks, hiks..,” isak tangis Abyan terdengar lagi.

Apa? Saboeum berbohong sama Abyan tentang pujian-pujian itu? Ya ampun, Abyan, dari mana kamu mendapatkan informasi itu?!” ujar saboeum kaget.

“Ry-Ryan mengatakannya saboeum..,” ujar Abyan yang akhirnya berterus terang.

Ya Allah. Berani-beraninya anak itu mem-fitnah saboeum. Hey, hey, Abyan! Yang dikatakan Ryan hanyalah sebuah perkataan konyol yang tidak boleh kamu percaya! Ryan hanya iri dengan semua kepandaianmu, sehingga ia ingin menjadi lebih baik darimu, tapi dengan cara yang salah! Abyan, sejujurnya saboeum memuji Abyan sepenuh hati, saboeum tidak pernah berbohong sama Abyan. Selama ini, saboeum selalu melihat Abyan dengan gerakan-gerakannya yang sangat baik. Abyan bukanlah anak yang bodoh, Abyan adalah seorang yang pandai! Dengar ya, Abyan, kamu adalah harapan sekolah ini, kamu harus ikut perlombaan ini. Ini adalah kesempatan emasmu membuktikan bahwa kamu adalah anak yang panda, bisa berprestasi! Berangkat ke sekolah sekarang, Abyan. Semangat, percaya diri, focus. Abyan yang pandai, saboeum menyayangimu..,” jelas saboeum panjang lebar.

Abyan terdiam. Kemudian ia menutup telpon dari saboeum.

“Berani-beraninya, Ryan mengadu domba aku dengan saboeum!!!” seru Abyan.

Abyan langsung berlari keluar kamarnya dengan penuh semangat. Aku, Mama dan Papa tersenyum melihat Abyan yang langsung bersemangat setelah mengetahui bahwa saboeum sebenarnya memuji Abyan dengan sepenuh hati.

“Ma, kalau Abyan telat gimana?” ujarku cemas.

“Tidak ada kata terlambat untuk mengejar impian..,” jawab Mama sambil tersenyum.

 

Pukul 09.15…

“Abyan mana, ya?” tanya Wiliam, salah satu anak taekwondo lainnya.

“Ah, sudahlah! Ayo tinggalkan dia! Per….,” Ryan langsung sinis menyahut.

“Ryan, stop!” ujar saboeum menegur Ryan dengan keras.

Ryan hanya menatap saboeum dengan penuh kemarahan. Dalam hatinya, Ryan sangat senang, karena ia berpikir rencananya akan berhasil. Detik demi detik berlalu, menit demi menit berlalu. Abyan belum juga sampai ke sekolah.

Jam sudah menunjukkan pukul 09.25. Akhirnya…

“Mari kita sambut, PESERTA TAEKWONDO DARI SD MANDIRI!” ujar pembawa acaranya hendak memperkenalkan para peserta taekwondo, teman-teman Abyan dari SD Mandiri.

Hahaha, akhirnya rencanaku berhasil..,” seru Ryan dari dalam hati.

Saboeum sempat cemas, karena Abyan belum kunjung datang. Perlombaan sudah mau dimulai. Hingga akhirnya di menit-menit terakhir..

“TUNGGU! TUNGGU AKU!” teriak seseorang dari belakang panggung, yang kemudian ikut naik ke atas panggung.

Abyan! Saboeum langsung tersenyum lega melihat kedatangan murid kesayangannya. Ryan kaget, wajahnya langsung muram. Abyan menatap Ryan dengan wajah yang percaya diri. Perlombaan pun segera dimulai! Semangat, Abyan..! KAMU PASTI BISA..!

 

“Hey, hey, Abyan. Piala juara satunya diliatin terus. Tuh, sudah ditunggu sama Pak Anjas. Sana berangkat, selamat menempuh tingkat kota! Saboeum akan menyusul beberapa menit lagi,” seru saboeum.

Abyan meninggalkan pialanya tersebut di meja guru. Terpampang tulisan juara satu perlombaan taekwondo. Itu artinya, Abyan berhasil membawa harum nama sekolahnya untuk lolos dalam pertandingan tingkat kota. Dia tersenyum sebelum akhirnya bergegas ke luar ruangan.

 

Aku memandang Abyan yang berjalan mantap menuju mobil sekolah yang akan membawanya ke Kejuaraan Taekwondo Tingkat Kota. Jika Abyan menang, maka akan melaju ke tingkat provinsi, dan lanjut ke nasional.

Abyan sayang, kamu berhasil membuktikan kepada kami semua. Pada aku, mama, papa dan teman-temanmu bahwa di balik kekurangan yang kamu miliki, ada kelebihan yang diberikan oleh Allah. Kekuranganmu sebagai anak diskalkulia, bisa kamu tutupi dengan kelebihanmu dalam bidang lain. Kamu telah membuktikan bahwa prestasi bukan hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam bidang non akademik. Semangat terus ya, adikku sayang. Semoga kamu bisa juara. Aamiin..,” doaku dalam hati.

Aku jadi ingat minggu lalu, wajah berbinar mama dan papa saat Abyan membawa piala juara satunya ke rumah, sesaat setelah dia memenangkan lomba pada Festival Ulang Tahun Sekolah. Mama dan papa sangat bangga dan bersyukur kepada Allah. Seperti yang selalu aku ingatkan ke Abyan, bahwa untuk meraih prestasi tidak harus dari akademik. Mama dan papa juga tidak pernah memaksa Abyan untuk meraih nilai tertentu dalam tiap mata pelajaran atau jadi juara kelas. Juara tidak harus dengan angka. Apapun hasilnya, Abyan adalah juara di hati kami semua. Abyan yang selalu juara di hati mama dan selalu jadi juara untuk papa dan Alsa. Di setiap kekurangan pasti ada kelebihan yang dimiliki, selama kita tetap berusaha dan berdoa, segala sesuatu akan dapat diraih. Kamu akan tetap jadi Juara Hati Mama, Abyan…! Selamanya, sampai kapanpun.

Juara di hati kami semua…

August 13, 2018 by [email protected] 1 Comment

Terungkap (Teka-teki Sungai Berdarah) #1 [Tamat]

“Kami sudah tamat.”

“Betul! Kalian sudah tamat…” Om Anto tersenyum mengerikan ke arah mereka bertiga.

Tiba-tiba dari balik pintu utama restoran, Kak Niar muncul dengan menggenggam senjata api ditangan kanannya….

“Kak Niar!” Rin berseru kaget. Rin, Rena dan Rei saling berpandangan pasrah. Mereka sudah tak memiliki satu celahpun sekarang. Tak ada.

Wajah Kak Niar terlihat sangat galak dan tegas. Ada kesan sangar yang terlukis di wajahnya. Dia berdiri dengan tegap sambil mengarahkan senjata api ke arah kami. Sebentar…. Bukan! Bukan ke arah kami. Tapi ke arah Om Anto!

“Polisi, divisi 13. Angkat tangan! Kalian ditangkap atas tuduhan pemasok daging sapi illegal!” seru Kak Niar sambil berjalan mendekat.

Rin, Rei dan Rena tergugu kaget. Ini benar-benar tak disangka oleh mereka bertiga. Fakta  yang sungguh mengejutkan. Rin menghela napas pelan. Merasa masih ada secercah harapan untuknya. Tunggu… rasanya masih ada yang mengganjal hati Rin.

Wajah Om Anto tak kalah terkejut dengan ketiga anak itu. Ruangan hening untuk sementara. Tak akan ada yang berani melawan bila dihadapkan dengan senjata api mematikan bukan? Sayang keheningan tak berlangsung lama. Dalam hitungan detik, Om Anto bergerak di belakang  Rin dan mengarahkan pisau saku Rena ke arah leher Rei.

“Rei!” teriak Rin.

“Om Anto…. Pisaunya… jangan dekat-dekat. Nanti Rei bisa berdarah….” Rei berbisik pelan, pasrah akan keadaan.

“Om Anto jahat! Lepasin Rei!” raung Rena marah. Ia juga tak berdaya lagi. Sama halnya dengan Kak Niar. Dia ternganga melihat tindakan Om Anto. Senjata apinya sama sekali tidak mampu melawan ancaman Om Anto.

“Letakkan senjata api itu di tanah dan angkat tangan kalian atau anak ini akan kulukai!” ancam Om Anto. Pisaunya semakin dekat dengan leher Rei.

“Kak Niar…” erang Rei ketakutan. Tangannya gemetar. Hampir saja ia menangis dan menjerit bila ia tak ingat ada Rin dan Rena yang berada dalam posisi yang sama sulitnya.

Tanpa banyak bicara Kak Niar menjatuhkan senjata apinya. “Menyingkir dari pintu utama!” perintah Om Anto. Rei terpaksa mengikuti Om Anto perlahan-lahan. Matanya berulangkali melihat wajahnya yang terpantul di kilatan dari pisau saku Rena.

“Om Anto…. Jangan bawa Rei!” teriak Rin. Ia masih tak bisa bergerak. Hatinya panas dibakar amarah kepada Om Anto. Ketika Rin mulai mempercayai seseorang, kenapa mereka semua malah berkhianat. Apa penilaian Rin selalu salah?

Om Anto berjalan perlahan-lahan dengan tetap waspada akan sekelilingnya. Terutama terhadap senjata api Kak Niar yang tadi sudah dijatuhkan ke tanah. Mata pisau sakunya masih mengarah ke leher Rei. Karena mereka sedang berjalan, entah beberapa kali besi tajam yang tipis itu menyentuh Rei.

“Kak Niar…. Selamatkan kami,” gumam Rena dengan wajah memohon.

Kemudian rangkaian kejadian terjadi sangat cepat ketika Om Anto  melangkahi pintu utama restoran.

Para polisi tiba-tiba memenuhi seluruh keliling restoran. Senjata api mereka mengarah kepada Om Anto. Om Anto terkesiap. Apalagi tiba-tiba hantamam datang dari belakangnya begitu keras. Ternyata itu adalah hantaman si pria jagal! Rin, Rei dan Rena ternganga mengetahuinya.

“Kok bisa…” sambung Rena. Kak Niar langsung menghampiri Rin dan Rena untuk melepaskan tali ikatannya.

“Terima kasih, Kak….”

“Kalian, sore-sore ke tempat ini. Bahaya, tahu…. Bukankah kakak sudah ingatkan agar tidak bermain di daerah ini?” tanya Kak Niar. Dari nadanya, Kak Niar terdengar marah sekali kepada mereka.

Beberapa polisi datang menghampiri mereka. Memberikan mereka selimut dan air mineral di gelas plastik. Polisi-polisi itu memandu mereka keluar dari dalam restoran terbengkalai. Memang, bagi Rin dan Rena, saat ini berdiri saja rasanya sulit sekali.

“Ray!” teriak Rin dan Rena bersamaan.

“Rin, Rena! Kalian baik-baik saja?”

Ray berdiri diantara para polisi itu. Senyumnya mengembang melihat teman-temannya keluar dari restoran terbengkalai. Terutama Rei, kembarannya yang sempat dalam bahaya. Di samping Ray, Rei terlihat duduk sambil menunduk lemas. Berkali-kali ia menarik napas panjang untuk menghilangkan ketakutan dalam dirinya.

“Aku melihat kejadian tadi dari awal sampai akhir,” bisik Ray kepada Rin.

“Kamu nggak apa-apa, Ray? Kita khawatir banget…. Rei apalagi…” tanya Rena sesegukan.

“Justru, aku yang seharusnya menanyakan itu. Aku baik-baik saja. Kak Niar ternyata salah satu anggota kepolisian yang bertugas mengamati pergerakan tersangka sindikat penjualan daging illegal. Sindikat ini sudah cukup besar. Ia menyamar sebagai mahasiswa yang sedang magang di RPH untuk mengejar Om Arif.

Kak Niar juga menyebarkan mitos itu agar ia lebih mudah mengawasi restoran terbengkalai. Agar tidak ada anak-anak yang bermain di sekitarnya. Kak Niar ingin menjauhkan anak-anak, dari sungai yang mengalirkan darah saat penjahat-penjahat itu memotong sapi ilegal. Tempat ini juga nggak aman karena penjahat-penjahat itu. Kak Niar tidak menyangka, mitos buatannya tambah mengerikan karena perbuatan penjahat yang sedang diawasinya itu,” jelas Ray panjang lebar.

“Jadi, Ray nggak ditangkap oleh Kak Niar?”

“Ya, enggak lah…. Tadinya kupikir, aku juga akan diculik. Ternyata Kak Niar orang baik. Pak Irwan juga….”

“Pak Irwan?”

“Iya, laki-laki yang kita beri julukan si tukang jagal itu…. Ia juga anggota kepolisian yang memang ditugaskan untuk membongkar kejahatan dari dalam. Ia dimasukkan ke komplotan itu seolah-olah sebagai tukang potong sapinya, padahal ia mencari bukti-bukti yang kuat untuk menangkap mereka. Keren ya…. Kayak intel aja gitu…” lanjut Ray lagi dengan penjelasan panjangnya.

Tiba-tiba Kak Niar menghampiri mereka dengan wajah garang. Awalnya Rin menatap nanar kak Niar, ia berniat meminta maaf atas kecurigaannya. Tapi melihat wajah galak Kak Niar, tak ada yang berani bersuara sebelum Kak Niar bertanya.

“Apa yang kalian lakukan di tempat ini?”

“Kami ingin menyelamatkan Ray,” jawab Rin singkat.

“Maaf kami mencurigai Kak Niar sebagai pelakunya…” sesal Rena.

“Iya, Rin juga minta maaf kak. Soalnya perilaku kakak mencurigakan sekali. Mulai saat bertemu di pasar sampai bertemu di RPH,” jelas Rin. “Juga kepada Pak Irwan. Kita sampai menyebutnya tukang jagal. Maaf….”

“Tidak masalah. Toh kalian juga belum tahu kan,” tanggap Kak Niar singkat. “Kakak hanya coba mengarahkan kalian ke jalan yang aman waktu itu,” lanjutnya. Keempat sekawan itu mengangguk.

“Iya, Rin belum sadar pada saat itu Kak.”

“Ya sudah, sekarang Kak Niar antar kalian ke rumah masing-masing ya….”

****

Cuaca sangat cerah hari ini. Suara anak-anak yang bersorakan terdengar sangat jelas dan sangat menyenangkan. Angin sepoi-sepoi juga ikut bersorak dengan girang, bersamaan dengan keceriaan anak-anak yang ada di lapangan itu.

Restoran terbengkalai itu diratakan, digantikan oleh taman yang sangat cantik. Taman itu dipasang berbagai jenis permainan anak-anak sampai beraneka jenis flora. Rin, Rei, Ray dan Rena ternganga ketika melihat pembukaan taman tersebut.

Seingat mereka, beberapa bulan yang lalu, sekolah mereka masih meributkan soal sungai yang mengalirkan darah. Sekarang tak ada bekas darah apapun di tempat itu.

“Kalian sudah dengar kabarnya Om Anto?” tanya Rena.

“Belum.” Rin menggeleng. “Ah, kamu pasti aja dapat info….”

“Iya dong…. Katanya Om Anto dan komplotannya ditahan termasuk orang yang dipanggil ‘bos’ oleh si tukang jagal, eh pak Irwan ding,” jelas Rena.

“Nggak disangka ya…. Padahal teman dekat ayah lho….” Ray mengangguk-angguk mendengar tanggapan kembarannya itu.

“Oh iya…. Satu lagi! Katanya Kak Niar mau beri kita hadiah lho…. Hadiah karena kita cukup membantu jalannya penyelidikan. Terutama informasi-informasi dari Ray. Hasil nguping sih…” sindir Rena. Ray terlihat cengengesan.

“Ayo ke Kak Niar! Kita tanya hadiahnya, hehehe,” ajak Rei semangat.

“Semangat deh kalau begini,” sahut Rin geli.

“Sudahlah. Yang terakhir ketemu Kak Niar jatahnya sedikit. Aku duluan ya….” Rei langsung berlari meninggalkan ketiganya. Diikuti dengan Ray lalu Rena.

Sementara Rin termenung sendirian. Teka-teki sungai berdarah sudah terpecahkan. Dari taman, ia menatap perumahan mati yang tepat berada di depannya. Adakah sesuatu yang bisa ia ungkap disana?

Tiba-tiba, tangan Rena mengamit lengannya, “Ayo, Rin… jangan bengong melulu!” (*)

 

 

oooooTAMATooooo