Buku Jo Si Kepo: Jangan Mudah Berprasangka Buruk Terhadap Sesama

Judul Buku      : Jo Si Kepo

Penulis            : Queen Aura

Penerbit          : Dar! Mizan

Cetakan           : I, Januari 2019

Tebal               : 84 halaman

ISBN               : 978-602-420-725-0

Presensi          : Sam Edy Yuswanto

            Islam mengajarkan kepada umatnya agar selalu mengedepankan pikiran positif dan menjauhi prasangka buruk terhadap sesama. Bila kita mudah berprasangka yang tidak-tidak kepada orang lain, maka akan menyebabkan hati kita menjadi kotor, diliputi kecurigaan yang berlebihan, dan pada muaranya nanti menjerumuskan kita pada perbuatan dosa. Na’uzubillaahi min dzaalik.  

            Kisah Jovita dan teman-temannya dalam buku ini, setidaknya dapat dijadikan sebagai pelajaran penting dan penuh hikmah bagi anak-anak di rumah, agar selalu berusaha menjauhi sifat berburuk sangka terhadap sesama, terlebih kepada orang-orang yang baru dijumpainya.

            Kisah bermula ketika para pedagang jananan di sekolah heboh karena uang milik mereka sering hilang. Kehebohan juga menular kepada anak-anak sekolah yang biasa membeli jajan ketika jam istirahat tiba. Hilangnya uang para pedagang jananan tersebut tentu menjadi sebuah misteri yang cukup sulit untuk dipecahkan.

            Hingga akhirnya, mereka mulai menaruh prasangka buruk kepada seorang pria dewasa bernama Kak Joel, salah satu pembeli jananan tersebut. Kak Joel adalah warga baru di pemukiman yang lokasinya tak jauh dari sekolah mereka.

            Mereka berprasangka buruk terhadap Kak Joel karena penampilan Kak Joel dianggap aneh dan tak wajar. Karena saat siang hari ia terlihat mengenakan mantel panjang, mirip tokoh dalam film vampir. Sementara posisi tangannya dikaitkan ke belakang punggung. Jalannya pelan dan badannya agak bongkok. Di tangannya, di balik punggung itu, Kak Joel membawa bungkusan berisi dua bungkus bakso yang baru dibelinya (halaman 15).

Sikap Kak Joel yang di mata orang-orang aneh, pendiam, dan misterius, semakin membuat mereka merasa yakin bahwa Kak Joel adalah pencurinya. Orang-orang begitu heboh menuduh Kak Joel memelihara tuyul di rumahnya yang besar dan bertingkat. Jovita bersama 6 sahabatnya pun merasa sangat penasaran. Mereka berusaha memecahkan misteri di balik hilangnya uang para pedagang jajajan di sekolah.

            Hal pertama yang dilakukan oleh Jovita dan para sahabatnya adalah menyelidiki rumah Kak Joel. Dengan mengendarai sepeda onthel, mereka beramai-ramai mencari alamat rumah Kak Joel. Sesampainya di rumah bertingkat tersebut, mereka lantas berusaha melancarkan misinya, yakni menyelidiki rumah tersebut, apakah benar memiara tuyul atau tidak.

Awalnya, Fajar, salah satu di antara mereka mengintip jendela. Namun, jendela yang besar itu tampak terkunci dan tertutup tirai. Sehingga ia tak bisa melihat ruangan dan isi di balik jendela tersebut. Mereka kemudian sepakat untuk meneliti belakang rumah Kak Joel.

Ketika melihat pintu kayu belakang terbuka sedikit, Agung, salah satu anak yang cukup pemberani berusaha masuk untuk melihat keadaan di dalam rumah. Sayangnya, belum sempat Agung masuk, tiba-tiba terdengar pintu ditutup dengan keras dan membuat mereka yang sedang mengendap-endap kaget dan saling bertabrakan hingga terjatuh. Mereka pun memilih lari tunggang langgang. Mereka takut kalau yang menutup pintu tersebut adalah tuyul piaraan Kak Joel (halaman 37).

  Namun, meskipun didera rasa takut, mereka tak lantas menyerah untuk terus menyelidiki rumah Kak Joel. Singkat cerita, ternyata dugaan mereka tidak satu pun terbukti. Kak Joel bukanlah pencuri uang milik para pedagang jajanan di sekolah. Tak hanya itu, Kak Joel ternyata adalah sosok yang tak hanya baik hati, tapi juga ramah dan bersahabat kepada anak-anak.

Kisah dalam “novel anak” ini layak dijadikan sebagai bacaan yang menghibur dan sarat pesan moral bagi anak-anak. Pesan moral yang dimaksud adalah tentang bahaya berburuk sangka terhadap sesama. Bahwa berburuk sangka terhadap orang lain itu bukanlah sikap yang baik. Jangan mudah menilai seseorang dari tampilan luarnya saja, karena terkadang tampilan luar bisa menipu pandangan kita. Seyogianya kita selalu berusaha mengedepankan pikiran positif dalam berbagai hal. Waspada dan hati-hati memang harus tapi bukan berarti kita lantas mudah berprasangka buruk terhadap orang lain. Lebih-lebih bila prasangka tersebut tanpa disertai bukti yang akurat.