KKPK Kejutan Rumah Kosong: Jangan Terlena dengan Kemewahan Dunia

Islam mengajarkan kita agar senantiasa hidup dalam kesederhanaan. Tidak berlebih-lebihan dalam segala hal. Meskipun kita memiliki banyak harta kekayaan, tetapi bukan berarti kita dapat hidup bebas sesuka hati, berfoya-foya, menghambur-hamburkan uang untuk kepentingan sesaat yang tak memiliki nilai kebermanfaatan untuk sesama.

Alangkah baiknya, bila harta kekayaan yang kita miliki dimanfaatkan untuk kepentingan umat yang lebih luas. Misalnya, selalu berusaha menyisihkan uang yang kita punya untuk membantu fakir miskin, menolong sesama yang tengah terbelit masalah ekonomi, menyumbang pembangunan pondok-pondok pesantren, dan seterusnya. Salah satu ciri harta yang berkah adalah bila dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Jangan pernah kita terlena dengan kemewahan dunia yang sifatnya hanya sesaat saja. Tak selamanya mewah itu menjadikan penentu kebahagiaan seseorang. Sebagaimana kisah dalam buku komik ini. Kisah berjudul “Enaknya Tinggal di Rumah Mewah” bercerita tentang bocah perempuan bernama Fathia, yang tengah dilanda rasa penasaran; bagaimana rasanya tinggal di rumah yang mewah?

Fathia berpikir tinggal di rumah mewah tentu menyenangkan. Namun anggapannya justru keliru ketika ia menginap di rumah Maria, sepupunya. Rumah orangtua Maria sangat besar dan dipenuhi dengan kemewahan. Banyak sekali koleksi buku dan mainan milik Maria. Namun yang membuat Fathia terkejut adalah ketika Maria bercerita bahwa ia merasa kesepian di rumah karena kedua orangtuanya sibuk bekerja.

Maria merasa kesepian di rumah. Ia jarang bertemu dengan ayah ibunya. Kesehariannya lebih banyak ditemani oleh pembantu. Menyaksikan kehidupan Maria, membuat Fathia tersadar bahwa kehidupannya selama ini jauh lebih bahagia, meskipun tidak tinggal di rumah mewah tetapi Fathia merasa bahagia karena memiliki banyak waktu bersama orangtuanya (halaman 37).

Cerita berjudul “Tak Kusangka” juga menarik dibaca karena sarat pembelajaran berharga untuk anak-anak. Berkisah tentang Alan, bocah laki-laki yang kesehariannya memulung sampah. Meski hidup seadanya, akan tapi Alan berusaha tak mengeluh. Ia juga dikenal sebagai anak yang rajin menunaikan shalat sekalian beristirahat di masjid.

Suatu hari Alan menemukan sebuah dompet yang isinya ternyata lembaran uang yang sangat banyak. Ia pun sempat berkhayal; “Seandainya aku punya uang sebanyak ini.” Untunglah ia segera tersadar dan tak merasa tergoda untuk mengambil uang yang bukan miliknya itu. Di dalam dompet, selain uang, Alan juga melihat ada kartu pemilik dompet tersebut.

Lantas, Alan berinisiatif untuk mengembalikan dompet tersebut kepada pemiliknya. Melalui nama serta alamat yang tercantum di kartu tersebut, Alan akhirnya berhasil menemukan rumah Pak Samsudin, si pemilik dompet. Di luar dugaan, Alan mendapat hadiah dari Pak Samsudin. Alan pun merasa senang pulang ke rumah membawa makanan yang enak untuk ibunya (halaman 87).

Masih ada beberapa cerita lain yang bisa dibaca dalam buku ini. Misalnya, cerita berjudul “Kejutan Rumah Kosong” berkisah tentang dua sahabat bernama Layla dan Lisa yang tengah mengikuti acara kemah sekolah. Saat berada di area perkemahan, ada sebuah kejadian penuh misteri yang dialami oleh Layla, Lisa dan satu lagi sahabatnya yang bernama Muthia.

Mereka bertiga menemukan sebuah rumah yang di dalamnya berisi koleksi buku yang sangat banyak. Tapi anehnya, buku-buku tersebut tak ada tulisannya alias kosong. Voila, si penjaga buku di rumah tersebut lantas menjelaskan bahwa buku-buku tersebut adalah buku ajaib. Apa pun yang ditulis oleh mereka bertiga, menurut Voila akan menjadi kenyataan (halaman 69).

Namun, Layla, Lisa, dan Muthia sepakat untuk tidak menuruti ajakan Voila. Karena mereka beranggapan bahwa buku kosong tersebut hanya akan menjadikan mereka pemalas yang enggan belajar dan berusaha. Cerita ini mengajarkan anak-anak bahwa setiap impian atau cita-cita itu harus diperjuangkan dengan susah payah. Artinya, tidak ada kesuksesan yang bisa diraih dengan cara instan tanpa melalui proses.

 

resensi oleh: Sam Edy Yuswanto

Leave a comment