December 6, 2018 by [email protected] 0 Comments

KKPK Serunya Uji Nyali: Melatih Keberanian Sejak Dini

Keberanian dalam diri tidak hadir begitu saja pada setiap orang. Harus ada latihan. Harus dipupuk sejak dini. Sebenarnya, jika diperhatikan anak-anak sejak kecil tidak punya rasa takut. Hanya saja, pola mendidik anak terkadang orangtua memilih untuk menakut-nakuti, juga pengaruh cerita dan film genre horor yang lambat laun ikut diakses oleh sang anak.

Karena hal tersebut, rasa berani anak menjadi terkikis. Karenanya perlu ada latihan agar anak kembali menumbuhkan rasa beraninya. Di sekolah-sekolah, biasanya ada uji nyali atau juga biasa dinamakan jurit malam untuk melatih keberanian dan mental siswa dan siswi.

Kisah-kisah tentang uji nyali bisa menjadi pelajaran sekaligus latihan keberanian anak-anak. Seperti kisah yang ditulis oleh Naura Athaya Sharif, penulis anak berusia 10 tahun yang sekolah di SD Purwantoro 8 Kota Malang ini. Judul cerita yang dia tulis adalah Serunya Uji Nyali.

Cerita ini bercerita tentang Iqbal, Dinda dan Aldo. Mereka adalah teman sesekolah. Suatu ketika sekolah mereka mengadakan kompetisi uji nyali. Kompetisi akan diadakan di hutan hujan monster. Setiap anak akan memilih di zona mana mereka akan melakukan kompetisi.

Iqbal, Dinda dan Aldo mendapatkan tempat yang sama yaitu zona horor. Cara memenangkan kompetisi adalah siapa yang lebih dulu menemukan kotak berisi benda misteri. Mereka pun masuk ke tempat zona horor, mereka harus mencari peta dulu. Ternyata, Dinda menemukan peta tersebut.

Tetapi, ternyata Dinda tidak bisa membaca peta dan meminta bantuan Iqbal untuk membaca. Setelah Iqbal membaca peta, akhirnya Iqbal mengajak Dinda dan Aldo ke sebuah rumah untuk mencari kota misteri tersebut. Mereka bersusah payah membuka rumah yang pintunya besar.

Mereka mendapati tiga labirin pohon. Aldo memilih labirin kanan, Dinda memilih tengah dan Iqbal terpaksa memilih kiri. Suasana sangat gelap. Untung saja Iqbal membawa senter, dan ternyata Iqbal menemukan rumah tersebut.

Ketika Iqbal membuka pintu, banyak kalelawar dari dalam rumah beterbangan keluar. Ketika masuk rumah, senternya menerangi tembok yang bertuliskan “jangan injak gambar tengkorak.” Sontak Iqbal jadi takut dan tidak menginjak lantai yang bergambar tengkorak.

Iqbal pun lari menaiki tangga dan ada gambar kepala singa yang mengagetkan. Ternyata di lemari buku ada tombol yang membawa Iqbal menemukan kotak yang dicari dan dia menemukan jalan keluar.

Ketika pengumuman, Iqbal sebagai penemu kotak misteri menjadi pemenang. Dia membuka kotak tersebut yang ternyata berisi kunci ruang studio musik di sekolah. Jadi, Iqbal dengan kunci tersebut dibolehkan menggunakan studio tersebut kapan saja (halaman 21). Iqbal pun senang, karena keberaniannya dia mendapatkan sesuatu yang menyenangkan.

Mental berani memang akan sangat bermanfaat bagi anak-anak di masa depan. Maka buku anak ini, cocok dibaca oleh banyak anak agar menjadi pemberani. Sebuah buku anak yang tipis, tetapi menarik bagi anak karena ada gambar dan ilustrasi yang menarik dan lucu, yang meski begitu juga sarat makna. Selamat membaca!

 

resensi: Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

December 6, 2018 by [email protected] 0 Comments

KKPK Kejutan Rumah Kosong: Jangan Terlena dengan Kemewahan Dunia

Islam mengajarkan kita agar senantiasa hidup dalam kesederhanaan. Tidak berlebih-lebihan dalam segala hal. Meskipun kita memiliki banyak harta kekayaan, tetapi bukan berarti kita dapat hidup bebas sesuka hati, berfoya-foya, menghambur-hamburkan uang untuk kepentingan sesaat yang tak memiliki nilai kebermanfaatan untuk sesama.

Alangkah baiknya, bila harta kekayaan yang kita miliki dimanfaatkan untuk kepentingan umat yang lebih luas. Misalnya, selalu berusaha menyisihkan uang yang kita punya untuk membantu fakir miskin, menolong sesama yang tengah terbelit masalah ekonomi, menyumbang pembangunan pondok-pondok pesantren, dan seterusnya. Salah satu ciri harta yang berkah adalah bila dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Jangan pernah kita terlena dengan kemewahan dunia yang sifatnya hanya sesaat saja. Tak selamanya mewah itu menjadikan penentu kebahagiaan seseorang. Sebagaimana kisah dalam buku komik ini. Kisah berjudul “Enaknya Tinggal di Rumah Mewah” bercerita tentang bocah perempuan bernama Fathia, yang tengah dilanda rasa penasaran; bagaimana rasanya tinggal di rumah yang mewah?

Fathia berpikir tinggal di rumah mewah tentu menyenangkan. Namun anggapannya justru keliru ketika ia menginap di rumah Maria, sepupunya. Rumah orangtua Maria sangat besar dan dipenuhi dengan kemewahan. Banyak sekali koleksi buku dan mainan milik Maria. Namun yang membuat Fathia terkejut adalah ketika Maria bercerita bahwa ia merasa kesepian di rumah karena kedua orangtuanya sibuk bekerja.

Maria merasa kesepian di rumah. Ia jarang bertemu dengan ayah ibunya. Kesehariannya lebih banyak ditemani oleh pembantu. Menyaksikan kehidupan Maria, membuat Fathia tersadar bahwa kehidupannya selama ini jauh lebih bahagia, meskipun tidak tinggal di rumah mewah tetapi Fathia merasa bahagia karena memiliki banyak waktu bersama orangtuanya (halaman 37).

Cerita berjudul “Tak Kusangka” juga menarik dibaca karena sarat pembelajaran berharga untuk anak-anak. Berkisah tentang Alan, bocah laki-laki yang kesehariannya memulung sampah. Meski hidup seadanya, akan tapi Alan berusaha tak mengeluh. Ia juga dikenal sebagai anak yang rajin menunaikan shalat sekalian beristirahat di masjid.

Suatu hari Alan menemukan sebuah dompet yang isinya ternyata lembaran uang yang sangat banyak. Ia pun sempat berkhayal; “Seandainya aku punya uang sebanyak ini.” Untunglah ia segera tersadar dan tak merasa tergoda untuk mengambil uang yang bukan miliknya itu. Di dalam dompet, selain uang, Alan juga melihat ada kartu pemilik dompet tersebut.

Lantas, Alan berinisiatif untuk mengembalikan dompet tersebut kepada pemiliknya. Melalui nama serta alamat yang tercantum di kartu tersebut, Alan akhirnya berhasil menemukan rumah Pak Samsudin, si pemilik dompet. Di luar dugaan, Alan mendapat hadiah dari Pak Samsudin. Alan pun merasa senang pulang ke rumah membawa makanan yang enak untuk ibunya (halaman 87).

Masih ada beberapa cerita lain yang bisa dibaca dalam buku ini. Misalnya, cerita berjudul “Kejutan Rumah Kosong” berkisah tentang dua sahabat bernama Layla dan Lisa yang tengah mengikuti acara kemah sekolah. Saat berada di area perkemahan, ada sebuah kejadian penuh misteri yang dialami oleh Layla, Lisa dan satu lagi sahabatnya yang bernama Muthia.

Mereka bertiga menemukan sebuah rumah yang di dalamnya berisi koleksi buku yang sangat banyak. Tapi anehnya, buku-buku tersebut tak ada tulisannya alias kosong. Voila, si penjaga buku di rumah tersebut lantas menjelaskan bahwa buku-buku tersebut adalah buku ajaib. Apa pun yang ditulis oleh mereka bertiga, menurut Voila akan menjadi kenyataan (halaman 69).

Namun, Layla, Lisa, dan Muthia sepakat untuk tidak menuruti ajakan Voila. Karena mereka beranggapan bahwa buku kosong tersebut hanya akan menjadikan mereka pemalas yang enggan belajar dan berusaha. Cerita ini mengajarkan anak-anak bahwa setiap impian atau cita-cita itu harus diperjuangkan dengan susah payah. Artinya, tidak ada kesuksesan yang bisa diraih dengan cara instan tanpa melalui proses.

 

resensi oleh: Sam Edy Yuswanto