August 13, 2018 by [email protected] 1 Comment

X Rindu… ( Puisi Rindu ) #8

X RINDU….

 

            “ Fit, Rin… gak kerasa ya, sekarang udah libur panjang” ujarku.

“ Iya Ra, gak kerasa ternyata ujian tuh udah berlalu” kata Fitri.

“ Iya, kita juga tau-tau udah makin banyak PR” kata Rindu.

“ Tapi kita tetep sahabatan kan” kata Rindu.

“ Ya iya lah Rin masa kita putus sahabat” kata Fitri.

“ Iya Rin, kita akan jadi sahabat selamanya” jawabku.

“ Udah, pulang yuk, besok lagi” kata Fitri.

“ Ayo” aku dan Rindu menjawab bersamaan.

Kami pun pulang ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya…….

 

“kita mau ngobrol apa nih hari ini..?” tanya Rindu.

“ Apa ya..?” tanya Fitri.

“ Kita ngobrol waktu dulu aja” ujarku.

“ Oh iya aku jadi inget, waktu dulu Rindu tuh malu-malu sama kita, iya kan Ra” kata Fitri.

“ Iya Fit, dia tuh gak mau kalo di ajak bareng” tambahku.

“ Ih, jangan ngomongin itu juga kali, kalian ini” kata Rindu.

“ Eh, aku jadi inget, kalian berdua itu punya banyak persamaan, teruus kalian juga kompak terus, emangnya kalian gak ngerasa, kali aja kalian itu sodara” kata Fitri.

“ Masa sih Fit, kalo kita sodara, pasit tiap lebaran bareng” jawabku.

“ Tau tuh Fitri ada-ada aja” kata Rindu kemudian.

Kemudian tiba-tiba…

“ Assalamualaium Ra..”

Aku spontan menoleh ke sumbar suara.

“ Lho bunda.. kok ke sini..?” tanyaku.

“ Bunda ke sini sama ibunya Rindu, ada yang mau bunda omongin sama kalian” kata bunda.

“ Hah..apa bun?” tanyaku.

“ Kita duduk yuk” kata bunda, yang kemudian duduk di kursi taman, diikuti olehku, Fitri Rindu, dan ibu Rindu.

“ Gini, Ra, kamu ngerasa gak sih, kalo kamu deket Rindu ada beda, rasanya beda gitu kayak kamu deket sama Fitri?” tanya Bunda.

“ Mm..iya bun, aku ngerasa, aku lebih ngerasa hangat sama Rindu” jawabku.

“ Iya tante, Rindu juga sama” kata Rindu.

“ Sebenarnya kalian itu ada hubungan, kalian itu adalah saudara kembar, tapi kalian tida kembar identic” kata bunda.

“ Hah… beneran, jadi selama ini Ra itu punya kembaran” tanyaku.

“ Iya Ra, kamu sama Rindu itu kembar” kata ibu Rindu.

“ Rin, kamu kembaran aku” aku langsung memeluk Rindu.

“ Tapi kalo kita kembar, orangtua kita siapa..?” tanya Rindu.

“ Orang tua kalian itu udah meninggal, waktu itu, ada kecelakaan, dan ada bayi kembar disana, bunda gak bisa rawat sendiri, jadi bunda juga minta tante Mia buat rawat bayi itu, bayi itu kalian” kata bunda.

“ Jadi gimana bun..Ra harus tinggal sama siapa?” tanyaku.

“ Bunda sama tante Mia, udah sepakat, kamu tetap tinggal sama bunda, Rindu tetap tinggal sama tante Mia” kata bunda.

“ Oh gitu” ucapku.

‘ BRUK ‘

“ Rindu…”

“ Penyakit Rindu kambuh lagi” kata Tante Mia.

“ Hah..penyakit, apa?” tanyaku.

“ Sebenarnya Rindu itu punya penyakit kanker, yang sudah menyerang setengah tubuhnya” kata Tante Mia lagi.

Tangisku pecah mendengar itu, aku menghambur memeluk bunda.

Kami segera berlari mengikuti Tante Mia yang menggendong Rindu, yang harus segera di bawa ke rumah sakit .

Sekitar 30 menit kami sampai di rumah sakit. Suster langsung menyambut kami dengan tempat tidur dorong untuk Rindu, kami mendorong tempat tidur itu menuju IGD.

Sementara Rindu di IGD, Tante Mia kembali ke rumah untuk mengambil baju Rindu.

Setelah hampir 45 menit, Tante Mia kembali.

“ Ratih..Fitri.. tadi tante liat di meja Rindu ada surat buat kalian dari Rindu” kata Tante Mia.

“ Oh, makasih tante” aku menghapus air mataku, dan membuka amplop berhiaska pita tersebut.

SAHABAT YANG RINDU MILIKI

 

Tak pernah ku menyangka memilikimu

Seperti hal yang berada di titik kesulitanku

Cara yang ku pikirkan

Untuk memilikimu

Namun tak sesulit itu

Kalian hadir dengan kepedulian

Kalian hadir dengan keikhlasan

Kalian hadir dengan kesetiaan

Tanpa ragu kalian menemaniku

Dengan semua yang kalian mampu

Kalianlah malaikatku

Yang datang hanya kepadaku

Melupakan tindakan kalian adalah hal bodoh

Perbuatan yang buruk sekalipun

Karena sesungguhnya

Tak pernah ku merasa kalian berbuat buruk

RINDU

Aku menangis membaca puisi hasil karya Rindu, begitu sayangnya Rindu padaku dan Fitri.

Kami menunggu hampir 2 jam, namun dokter belum kunjung keluar dari ruang IGD.

10 menit kemudian…..

“ Apakah ibu keluarganya Rindu..?” tanya dokter.

“ Iya benar, saya ibunya” kata Tante Mia.

” Maafkan saya ibu, kami sudah melakukan yang terbaik, tapi Rindu sudah menghadapi takdirnya, kami pihak rumah sakit turut berduka, saya permisi” kata dokter.

Tangis kami pecah dalam ruang tunggu ini, tak terbendung air mataku yang tak henti menangisi Rindu.

Walaupun kami memang tak bersama, tapi aku yakn Rindu akan selalu bersamaku.

August 13, 2018 by [email protected] 1 Comment

Perjuangan Abyan (JUARA HATI MAMA)

Hari ini adalah hari kembali masuk sekolah setelah kemarin ada rapat guru di sekolah. Aku dan Abyan akan kembali masuk ke sekolah. Seperti biasa, Abyan mengeluh tentang teman-temannya di sekolah. Teman yang meremehkan dirinya, mengejek dan tidak mempedulikan kehadiran dirinya di kelas. Kami semua memberinya semangat. Pagi ini, Abyan sedikit berubah, dan hanya menangis sebentar saat hendak berangkat sekolah. Sesampai di sekolah, aku mengantarkan Abyan sampai di depan lorong kelasnya kemudian dia berjalan sendiri memasuki ruangan kelas.

Semenjak proses terapi beberapa minggu yang lalu, Abyan sedikit berubah. Di rumah aku, mama dan papa juga melatih Abyan untuk belajar memahami konsep sederhana matematika melalui permainan seru, melakukan berbagai hal sehari-hari di rumah yang selalu diselipkan oleh permainan logika matematika dan membelikan mainan yang berhubungan dengan matematika. Sedikit demi sedikit Abyan terlihat mulai mengerti tentang konsep dan logika matematika. Prosesnya memang tidak mudah, tapi karena kami semua konsisten dan bersungguh-sungguh, Abyan jadi seperti tidak sadar bahwa semua itu dilakukan agar dia bisa sedikit mengatasi kesulitannya. Tapi semua tidak menuntut apa-apa dari Abyan, hanya demi kepercayaan dirinya agar bisa tumbuh kembali. Tapi kalau aku lihat di pergaulan dia dengan teman-teman di sekolah, masih terlihat dia minder dan tidak percaya diri. Beberapa temannya juga ada yang mengejeknya. Kasihan, Abyan….

 

Siang harinya sepulang dari sekolah…

Sesampai di rumah, Abyan langsung masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan aku yang sudah berganti baju segera pergi ke ruang makan untuk makan siang. Siang ini mama memasak makanan kesukaanku, sup baksooooo…. Sudah tidak sabar menikmatinya. Tiba-tiba, terdengar suara bel rumah berbunyi.

TENG! TONG! TENG! TONG!

            Abyan keluar kamar dan berlari ke pintu depan dengan pandangan yang berbinar-binar. Aku penasaran, siapakah yang datang ke rumah kami. Ternyata ada beberapa anak laki-laki berdiri di depan pintu rumah, menunggu Abyan. Mereka mengajak Abyan bermain bola. Anak-anak tersebut tinggal dilingkungan perumahan kami.

 

BRAAAAKKKKK!!!

Terdengar suara pintu terbanting. Oh tidak! Aku lupa menutup pintu depan! Aku yang sedang tidur-tiduran di kamar langsung kaget dan terbangun, kemudian segera berlari menuju luar rumah. Di depan pintu, aku mendapati seorang anak laki-laki yang seumuran Abyan sedang memegang bola.

“Kamu siapa? Mana Abyan?” tanyaku sedikit panik.

“Oh, ini kakaknya Abyan, yah? Maaf, kak, tadi Abyan nendang bola kenceng banget sampe kena ke pintu rumah. Luar biasa tendangannya, ya, Abyan. Hehee.. Kakak lupa tutup pintu, ya? Maaf, aku sampe masuk-masuk rumah kakak..,” jawab anak tersebut.

Kemudian anak tersebut keluar dari pintu gerbang rumahku, langsung menghampiri Abyan dan teman-temannya. Aku hanya terdiam sambil menatap Abyan dan teman-teman sebayanya yang akrab mengobrol. Abyan menatapku sambil tersenyum. Tak lama, aku segera menutup pintu gerbang dan masuk ke dalam kamarku lagi.

 

Mulai hari ini aku pulang jam 15.30, karena ada tambahan khusus untuk pelajaran Matematika, IPA dan Bahasa Indonesia untuk kelas 6 SD, setiap hari. Akibatnya, Abyan harus menunggu aku selesai pelajaran tambahan. Sambil menunggu aku, Abyan melihat-lihat kakak-kakak kelasnya atau teman-teman yang sedang mengikuti ekskul yang biasa dilaksanakan dari jam 14.00 sampai jam 15.30. Biasanya, di kelas tambahan, siapa yang bisa menyelesaikan soal terlebih dahulu dengan benar, dapat pulang cepat dan lebih dulu. Hari ini, aku memiliki sebuah rencana yang sudah kususun semenjak kemarin sore. Aku akan usahakan selesai lebih cepat agar bisa memperhatikan keseharian Abyan di sekolah. Aku ingin melihat bagaimana interaksi Abyan yang cenderung bersikap minder bersama teman di sekolah. Aku tidak mau adikku yang mempunyai kekurangan menjadi korban bullying.

Semalam aku belajar sampai larut malam demi persiapan mengikuti pelajaran tambahan, agar bisa mengerjakan soal dengan cepat dan mudah. Siang ini aku selesai pertama dan keluar kelas lebih awal. Sekarang, waktu menunjukkan sekitar jam 14:45. Aku diam-diam menghampiri Abyan yang tengah memakan sepotong roti tawar berisi keju, dan berdiri di samping tembok di belakangnya. Abyan tidak menyadari kehadiranku.    Aku melihat dia sedang memperhatikan temannya yang sedang mengikuti ekskul taekwondo. Tiba-tiba, Abyan langsung menutup kotak makannya, kemudian mengikuti gerak-gerik bela diri teman-temannya. Aku tersenyum. Dia terlihat semangat dan berbinar matanya. Dalam hati, aku yakin bahwa suatu hari nanti Abyan akan menjadi anak yang luar biasa.

 

Hari ini adalah hari Minggu. Mama dan Papa libur kerja. Aku pun menceritakan kejadian yang terjadi semenjak 2 minggu yang lalu. Setiap hari Senin dan Kamis, anak-anak yang mengikuti ekskul bela diri akan berlatih di aula terbuka, sehingga siapapun dapat melihat, termasuk Abyan. Abyan mencoba untuk mengikuti gerakan-gerakan bela diri yang diberikan oleh pelatih bela dirinya tersebut. Sudah 2 minggu aku sengaja mengamati Abyan.

Sejak kecil, Abyan adalah anak yang sulit diatur. Anaknya super aktif, tidak bisa diam. Ada saja hal yang dilakukannya, terutama yang berhubungan dengan motorik kasar. Abyan juga cenderung sulit berkonsentrasi dalam durasi lama, sehingga ia kesulitan dengan pelajaran dan punya kelainan diskalkulia.

“Abyan, Papa dengar kabar dari kakak. Kamu suka ngikutin gerakan-gerakan bela diri dari ekskul taekwondo, yaa? Hayooo, kamu tertarik yaaa…? Mau ikutan juga? Kalau mau ikutan ekskul, bilang Papaaa,” ujar papa sambil bercanda dengan Abyan.

“Hihihi.. Iya, maaf, Paa, soalnya mereka keren-keren, jadi Abyan suka lihatnya dan ikutin juga deh. Tapi cuma ngikutin aja. Nggak bermaksud apa-apa..,” jawab Abyan polos.

Mama tersenyum. Kemudian aku menceritakan akhir-akhir ini memperhatikan Abyan sepulang sekolah. Aku mengatakan bahwa Abyan memang terlihat bisa mengikuti gerakan dengan baik, walaupun memang Abyan hanya mengamati dari jauh.

Mama pun berkata bahwa Mama akan mendaftarkan Abyan ekskul taekwondo. Tapi..

“Jangannn! Jangan, Ma!” teriak Abyan seketika.

Mama, Papa dan aku saling berpandangan satu sama lain dengan wajah bingung.

“Loh? Kenapa nggak mau? Katanya Abyan seneeeng..,” tanya Papa kebingungan.

“Eeemmm… Abyan takut kalau diejek-ejek lagi. Bagaimana kalau ternyata Abyan tidak bisa dan mereka mengejek?” tanya Abyan sambil memegang tangan Papa dengan sangat keras.

“Lhooo? Kan belum dicoba, Abyan.. Mengapa kamu jadi rendah diri begitu? Semenjak kamu menyadari bahwa kamu memiliki kekurangan dalam konsep matematika, kakak perhatikan kamu jadi nggak percaya diri. Saat itu memang kamu pernah diejek karena kekurangan kamu di bidang itu, tapi belum tentu mereka lebih pandai dari Abyan di bidang lain kan. Ayo, dicoba dulu! Semangat, dongg!” ujarku menyemangati.

Abyan pun sempat terdiam, berpikir sejenak. Setelah itu ia tersenyum kemudian mengangguk, tanda setuju diikutsertakan ekskul taekwondo. Aku, Mama dan Papa tersenyum melihat semangat Abyan yang luar biasa…

 

Hari ini, pelajaran tambahan di kelas 6 diliburkan. Karena guru pengajarnya ada rapat mempersiapkan kunjungan Dinas Pendidikan. Hari ini pula, kebetulan, Abyan juga masuk ekskul taekwondo untuk pertama kalinya. Aku mengantarkannya ke aula terbuka, kemudian aku duduk melihatnya di sebuah tempat duduk di dekat aula tersebut.

Kulihat Abyan sangat senang mengikuti ekskul taekwondo ini. Abyan sangat menikmati, bahkan rasa percaya dirinya kembali seperti semula. Walaupun, pada awalnya ia terlihat malu-malu. Tapi lama kelamaan, setelah pelatih taekwondo, atau biasa dipanggil saboeum tersebut membujuk Abyan dengan halus, akhirnya Abyan terlihat bersemangat dan mengikuti ekskul tersebut dengan penuh antusias.

Sempat sesekali Abyan dimarahi oleh sang saboeum, tetapi Abyan tidak menyerah, atau terlihat putus asa, tidak seperti beberapa temannya yang langsung menyerah jika tidak bisa suatu gerakan baru, kecapaian, atau terlihat malas. Tangan-tangan kecilnya, kaki-kaki mungil Abyan mulai memberikan jurus-jurus bela diri taekwondo. Aku tersenyum melihat adik kecilku tersayang sedang berlatih taekwondo. Sudah lama aku tidak melihat wajah tersenyum dan antusias seperti kali ini. Abyan, kamu spesial, aku yakin, Abyan kelak akan menjadi lebih baik, paling baik, dan menjadi kebanggan hati kami.

 

Sudah satu bulan Abyan berlatih taekwondo. Itu artinya, sudah 8 kali pertemuan, dan Abyan terlihat lebih bersemangat. Percaya dirinya sudah mulai bertambah. Dia menjadi pribadi yang kuat, lebih percaya diri dan tidak minder. Walau aku masih ragu, mungkin Abyan akan minder lagi, apabila diejek lagi oleh teman-teman sekelasnya karena kekurangan diskalkulianya? Atau kepercayaan dirinya akan tumbuh terus? Semoga saja.

 

Di suatu siang yang terik, setelah jam sekolah berakhir…

Abyan berjalan menghampiri kelasku yang sedang pelajaran tambahan. Tiba-tiba, di perjalanan Abyan menuju kelasku, seorang anak menghadangnya naik ke tangga untuk ke kelasku yang berada di lantai 3. Abyan kaget. Dia adalah teman sekelas Abyan. Dengan berani, Abyan bertanya.

“He-hei! Kenapa kamu menghalangiku seperti itu? Aku kan mau jemput kakakku di kelasnya. Ada masalah apa, ya?” tanya Abyan mulai memberanikan diri.

“Hei, heii. Gak usah sok pemberani gitu, deh, kamu! Abyan, kamu tuh sudah mencuri perhatian saboeum, beliau jadi suka sama kamu. Padahal kan kamu anak baru. Tapi jangan mimpi bisa mengalahkan aku yaaa…,” sahut anak itu dengan nada tinggi.

“Hah? Aku biasa aja kok…Aku..,” omongan Abyan dipotong.

“Halah! Udah jangan banyak omong. Kamu tuh bodoh di akademik! Hitung-hitungan saja kamu nggak bisa. Pasti kamu bagus di taekwondo terbaik cuma kebetulan aja! Lihat saja, nanti, nggak usah banyak berkhayal bisa hebat taekwondo!” sahut anak itu sambil meninggalkan Abyan.

Abyan tercengang mendengar kata-kata bodoh yang dikeluarkan oleh anak tersebut. Abyan jadi teringat bahwa dirinya memang tidak pandai di akademik, terutama di matematika. Abyan langsung duduk di anak tangga. Aku yang baru saja keluar kelas dan menuruni tangga, kaget melihat Abyan menangis di anak tangga sambil duduk. Aku langsung menanyakan sebabnya, kemudian menuntun Abyan berjalan pulang.

Sampai di rumah, Abyan tetap saja tidak mau berbicara. Bahkan, Abyan sudah diajak berbicara oleh Mama dan Papa. Sampai larut malam, Abyan hanya membisu dan mengunci dirinya di dalam kamar. Ada apa denganmu, Abyan? Kenapa kamu begini lagi?

August 13, 2018 by [email protected] 3 Comments

Di Akhir Cerita … (24th Room)

Tidak terucap sepatah kata pun dari Katia dan Ayase. Benar-benar tidak disangka. Wajah Selena mendadak berubah menjadi penuh penyesalan. Katia tahu. Selena terpaksa melakukan ini. Ya, walau ia tidak tahu alasan sebenarnya, tapi dia sangat yakin bahwa Selena sangat terpaksa. Terlebih lagi, Selena tidak merencanakan kejahatan ini dari awal.

“Ayo? Apa yang akan kalian lakukan?” tanya Kak Prilly seraya tertawa mengejek, “hei … hei … aku pikir rencanaku salah. Seharusnya, aku tidak akan mengembalikan batu safir ini. Aku tidak perlu menunggu hingga Festival Musik tiba, lalu aku mengaktifkan batu safir ini. Tidak perlu menunggu lama. Detik ini juga, akan kuaktifkan batu safirnya.”

Kak Prilly pergi ke suatu tempat yang tak jauh dari situ. Ia berdiri di depan pohon mangga yang berjarak hanya 3 meter dari tempatnya berdiri. Tanpa disangka, Kak Prilly menekan batang pohon mangga tersebut, dan terbukalah sebuah pintu kecil di bawah tanah. Ia mengambil sebuah …

“Kotak! Itu kotak untuk menyembunyikan batu safir!” jerit Ayase. Ia mengeluarkan kotak tempat menyimpan batu safir. Kotak itu persis seperti kotak yang ada dalam video.

“Oh, ya. Betul sekali,” jawab Kak Prilly seraya tertawa jahat, “yang mengetahui dan bisa membuka tempat persembunyian kotak beserta batu ini hanyalah aku. Bahkan, Tanteku yang cerewet itu tidak mengetahuinya.”

Sudah pasti. Kak Prilly tahu cara menggunakan dan mengaktifkan batu tersebut. Perlahan-lahan, sekolah ini akan ditaklukan Kak Prilly, dan kemudian … semua penghuninya akan menjadi batu.

Tiba-tiba …

“Hentikan perbuatanmu!”

Katia dan Ayase terkejut ketika melihat segerombolan guru-guru, termasuk kepala sekolah—Miss Quelline—datang. Kak Prilly terkejut bukan main. Kemudian, datanglah Kak Sher beserta anggota kamarnya, yakni Elvara, Niaal, dan Lyfa. Wajah Kak Prilly berubah masam ketika melihat Sher dan anggotanya. Argh … kenapa aku lalai dengan mereka?!

Katia dan Ayase tidak mengerti. Bagaimana … bagaimana ini bisa terjadi? Wajah Selena berubah lebih pucat lagi. Bagaimana jika ia akan dipenjara? Apa kata Ibu dan Ayahnya?

“Kamu tidak bisa pergi kemana-mana lagi, Prilly!” bentak Miss Quelline, “ternyata, kaulah dibalik semua kejahatan ini. Kami tahu segala rencana yang telah kamu buat. Kamu memakai mereka sebagai umpan, dan juga Tantemu! Ini sungguh kejahatan Bluestone yang harus dihukum berat!”

Tiba-tiba, Kak Prilly menyeringai. Dia tertawa. Tawanya sangat seram. Semua guru langsung mundur perlahan, takut.

“Hahaha … hahaha … hahaha. Bagus … bagus sekali caramu mengkhianatiku, Sher. Setelah apa yang kuberikan padamu, kamu mengkhianatiku. Sungguh. Kamu adalah sasaran dan target empuk untuk batu ini melenyapkanmu. Aku sangat suka caramu berkhianat,” katanya dengan berselang beberapa detik kemudian, tawanya berhenti. Sorotan matanya menjadi tajam, “kalian bodoh. Kalian tidak tahu siapa aku sebenarnya. Aku bukanlah gadis bodoh bernama Prilly, yang baik, pintar, dan keren. Aku bukanlah sosok Prilly yang dapat dibanggakan.”

Apa maksudnya?

“Apakah kalian pernah menyangka, kalau aku seorang Blue Master dari Bluesniper? Jika iya, kalian benar. Aku adalah seorang Blue Master. Kalian mengenalnya?” Kak Pril, ah, bukan. Gadis itu menarik rambutnya. Rambut pendeknya berubah menjadi panjang. Ya, dia memakai wig! Dengan model dan panjang yang hampir sama dengan Kak Sher. Bedanya, warna yang dimilikinya adalah biru. Ia mencopot contact lens dari matanya. Semula, warna bola matanya cokelat, berubah menjadi hijau terang.

“Dia … dia Alliesza Sharonia! Blue Master dari Bluesniper!” seru Miss Cinthya kaget. Alliesza Sharonia adalah seorang penembak jitu—yang mendapat gelar master karena hebatnya dia dalam menembak—dari Bluesniper. Bluesniper adalah organisasi tembak-menembak yang terkenal hingga ke seluruh dunia. Untuk naik ke level selanjutnya sangat sulit dan butuh waktu yang lama. Blue Master sudah terkenal. Dan kini, ia berada di hadapan mereka.

“Yaa … aku Alliesza. Aku harus mengumpat dari publik selama tiga tahun demi misi ini. Dan aku tidak akan membiarkan kalian merusaknya dengan begitu saja. Apa kalian berani melawan seorang Blue Master? Kuberikan satu kesempatan untuk kalian. Biarkan aku memiliki dan menguasai sekolah ini, atau kalian akan berhadapan dengan pistolku?” Alliesza mengeluarkan pistol yang mengilap dari saku roknya. Itu adalah Golden Gun, pistol legendaris yang hanya bisa dimiliki setiap master di Bluesniper.

Semua terdiam. Tidak berani berkutik. Apalagi, setelah gadis itu memain-mainkan golden gun. Penembak jitu dengan golden gun … bisakah kita melawannya? Walau Miss Quelline tetap merebut batu itu, tidak akan berhasil. Baru satu dua langkah mendekat, golden gun akan mengeluarkan pelurunya.

Tidak ada yang bisa dilakukan. Dengan terpaksa, Miss Quelline memilih yang pertama. Alliesza yang licik itu tersenyum senang.

“Bagus, sekali. Pertama-tama, aku akan melenyapkan anggota kamar 12 ini. Tidak masalah bukan?”

Kak Sher mundur satu langkah. Entah apa yang akan dilakukan gadis itu, Kak Sher harus mencari perlindungan.

“Aku tidak mau membuang-buang peluru kesayanganku. Jadi …” Dia melirik batu safir, “kita pakai ini saja, yah?”

Alliesza mengangkat batu safir dari tangannya dengan tinggi-tinggi. Ia megucapkan sebuah mantra, dan batu safir bersinar dengan terang. Itu adalah … mantra untuk mengaktifkan dan mengabulkan permintaan dari batu safir, gumam Miss Quelline serius.

Batu safir bersinar semakin terang. Cahayanya sangat menyilaukan. Batu itu siap mengabulkan permintaan buruk Alliesza, sebelum Selena menggagalkannya. Selena mengambil batu safir itu dengan cepat.

Alliesza terkejut. Selena berlari menuju Miss Quelline. Karena hanya Miss Quelline yang tahu cara menggunakanya. Dan anehnya, saat batu itu beralih tangan, sinarnya menghilang. Alliesza pun tidak tinggal diam. Ia menggunakan sebuah pistol. Itu bukan golden gun. Itu soft gun, yang tidak mematikan, melainkan hanya melukai. Ia melakukannya dengan cepat, kemudian menembak kaki Selena yang berlari cepat. Selena terjatuh dan batunya terhempas. Walau hanya melukai, rasanya sakit sekali.

“Dan satu lagi, rekanku berkhianat.”

Walau jarak batu itu dekat dengan para guru dan Miss Quelline, tidak ada yang berani mengambilnya. Bahkan, jalan dengan satu langkah pun tidak.

Alliesza mendekat ke arah Selena. Ia menatap Selena, “jadi, kamu mengkhianatiku demi sebuah dukungan? Hei, dengar! Gadis bernama Selena yang manis dan imut ini, tidak seperti yang kalian bayangkan. Apakah kalian percaya, jika ia pernah mengambil sebuah barang berharga dari kantor gurunya? Mengambil barang dari anggota sekamarnya? Ia tidak sebaik yang kalian kira.”

Guru-guru mendesah. Mereka memang kehilangan benda-benda kecil milik mereka. Dan semua tuduhan itu menunjuk kepada Selena. Selena hanya diam dan meringis kesakitan. Alliesza kembali merebut batu safir yang terhempas itu. Tanpa kata-kata lagi, ia kembali mengucap mantra. Ia tidak mengurungkan niatnya untuk melenyapkan Sher, Elvara, Niaal, dan Lyfa.

Katia tersentak. Ada banyak guru dan staf disini. Bagaimana mungkin, keberanian kami tidak ada walau setitik pun? Jumlah kami banyak. Kami bisa menggunakan benda atau senjata apapun untuk melindungi diri!

Tepat setelah batin Katia berucap, batu safir yang berada di tangan Alliesza kembali direbut. Kali ini bukan dengan Selena, Katia, Ayase, atau para guru. Serentak, mereka semua menoleh ke arah loteng.

Banyak para murid Bluestone yang menonton dari arah loteng. Salah satu dari mereka lompat dan mengambil batu safir itu. Rupanya, kejadian ini telah diketahui para murid. Mereka menyusun rencana untuk mendapatkan kembali batu safir.

“Kembalikan batu itu!” jerit Alliesza, “aku akan menembakmu dengan golden gun jika tidak segera memberikan batu itu!”

“Coba saja kalau bisa,” sahut anak itu yang ternyata Luca. Ia bergelantungan dengan tali dari loteng yang satu, ke loteng lainnya. Ia menjulurkan lidah ejekan kepada Alliesza, “tidak mungkin kami akan membiarkan orang sepertimu menguasai sekolah ini, bahkan dunia.”

Alliesza yang kesal segera mengeluarkan golden gun tanpa aba-aba. Namun, saat ia hendak mengeluarkan, seseorang mengambil golden gun itu. Ia adalah Jennie Kylaa, murid dari kamar 32, “oh, tidak bisaa …!”

Detik itu, Miss Quelline bertindak. Ia tahu, Jennie sengaja mengulur waktu untuk memberikan kesempatan menangkapnya. Miss Quelline memeluk Alliesza dengan erat. Alliesza memberontak, namun ia tidak dapat melepaskannya. Tangannya berusaha berkutik mengambil salah satu pistol. Namun rupanya, Jennie telah mengambil semua pistolnya.

“Menyerahlah kamu, Alliesza! Kamu telah kalah!” sorak murid-murid Bluestone.

“Tidak! Aku tidak kalah! Seorang Blue Master tidak akan kalaaaah …!!!”

Tiba-tiba, polisi dari kepolisian Bluestone datang. Mereka memborgol tangan Alliesza dan membawanya untuk dihakimkan nanti. Sementara itu, seluruh murid berkumpul di aula. Luca memberikan batu safir kepada Miss Quelline.

Miss Quelline memberikan sambutan.

“Terima kasih sangat Miss ucapkan, atas bantuan dari seluruh murid-murid yang Miss cintai dan sayangi. Berkat kalian, masalah pada bluesapphire di sekolah kita terpecahkan. Awal mula, Miss hendak putus asa ketika batu tersebut berada di tangan Alliesza. Tapi, tanpa Miss sangka, kalian membantu dan merebut kembali batu itu. Semangat Miss kembali utuh,” kata Miss Quelline bangga, “sebagai ucapan terima kasih, Miss akan membuat pesta khusus untuk murid-murid.”

“Yeaaay …!” sorak murid-murid Bluestone dengan gembira.

Katia, dan Ayase menghampiri Kak Sher, Elvara, Niaal, dan Lyfa.

“Kakak …”

“Aku yang seharusnya minta maaf pada kalian,” potong Kak Sher tulus. Ia tersenyum kemudian mengulurkan tangan, “aku telah membohongi kalian, membentak kalian, memarahi kalian. Aku juga sudah bekerja sama dengan Alliesza. Semua itu aku lakukan untuk membalas jasanya yang tak terkira padaku. Dan pada akhirnya, aku harus mengkhianatinya.”

“Maafkan kami juga, Kak. Kami telah mencurigai Kakak dan kalian. Mungkin, karena kami yang terlalu terobesesi memecahkan masalah ini, hingga tanpa sadar kami telah bersikap egois,” kata Katia mewakilkan, “yang Kakak lakukan itu benar. Setidaknya, Kakak telah berusaha untuk menjadi baik. Dan berkat Kakak, para guru dan murid mengetahuinya.”

Katia dan Kak Sher berjabat, lalu saling berpelukan. Begitupula dengan Ayase, Elvara, Niaal, dan Lyfa.

“Maafkan kami, ya, telah bersikap dingin kepada kalian,” ujar Elvara lembut. Di lain sisi, ketiganya sangat lemah lembut dan baik. Tekanan dari Alliesza yang menyuruh mereka untuk bersikap dingin pada kami.

“Kalian mau kemana?” tanya Kak Sher begitu melihat Katia dan Ayase beranjak pergi.

“Kami mau ke UKS, Kak. Mau melihat kondisi Selena. Bagaimana pun juga, dia adalah sahabat kami,” jawab Ayase.

“Kami boleh ikut?” tanya Kak Sher. Katia dan Ayase mengangguk riang.

Mereka menengok keadaan Selena. Kakinya sedang diperban oleh Miss Britha—guru yang menjadi pengawas UKS—tapi Selena sedang meringis kesakitan di ranjang.

“Sakit sekali, terkena peluru dari soft gun itu,” celoteh Selena. Selena terdiam ketika melihat Katia dan yang lainnya datang.

“Hai, Sel. Bagaimana keadaanmu?” tanya Kak Sher ramah. Selena terlihat gugup.

“Um … masih agak sakit,” jawab Selena.

“Semoga lekas sembuh ya. Dan jangan lupa, ikut pestanya lusa. Oke?”

Selena yang gugup hanya tersenyum dan mengangguk.

Walau anggota kamar 12 dan Selena membantu Alliesza, hukuman mereka dimudahkan karena mereka membantu juga. Mereka hanya akan diberi pekerjaan rumah yang tidak begitu banyak.

****

Balon-balon sudah siap. Pita pun sudah ditempel dimana-mana. Pesta ini rupanya bukan hanya sebagai ucapan terima kasih, melainkan untuk memperingati hari ulang tahun Miss Quelline.

Kue tar cokelat yang bertingkat tiga itu didorong ke tengah aula. Ada tulisan di kue itu, yang tertulis THANK YOU, STUDENTS. Hari ini adalah hari ulang tahun Miss Quelline yang ke-37.

Semua murid dipakaikan topi ulang tahun, dan mendengar sambutan Miss Quelline. Setelah sambutan yang singkat, pesta pun dimulai. Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Miss Quelline, dan meniup terompet. Ternyata, kue yang dibeli bukan hanya satu. Melainkan tiga kue. Kue kedua bertingkat dua dan kue ketiga tidak bertingkat.

Senangnya hari ini, setelah kasus batu safir terselesaikan. Terjawab sudah semua misteri yang selama ini membingungkan. Dengan terjadinya kejadian ini, Miss Quelline lebih waspada dan menyimpan batu itu lebih aman.

****

August 13, 2018 by [email protected] 1 Comment

Don’t Give Up, Abyan! (JUARA HATI MAMA)

“Abyan, kamu kenapa, sih, ngambek kayak gitu? Kamu sudah melewatkan 2 kali pertemuan taekwondo, lho! Kenapa, sih? Kayaknya kemarin-kemarin kamu biasa saja, tidak ada keluhan apa-apa. Kenapa, sih? Cerita aja sama kakak..,” tanyaku terus membujuk.

Abyan hanya terdiam. Sudah 2 kali pertemuan taekwondo ia lewatkan, sejak kejadian di tangga bersama teman sekelasnya Abyan. Abyan masih teringat kata-kata teman sekelasnya tersebut. Teman tersebut berkata bahwa Abyan itu sebenarnya tidak bisa apa-apa, dan menjadi seorang pemain taekwondo terbaik saat itu hanya sebuah kebetulan. Teman Abyan tersebut mengatakan bahwa dalam akademik saja Abyan tidak bisa apa-apa, jadi dalam non akademik pun Abyan akan bernasib sama.

 

“Eh, Alsa. Kamu udah liat mading sekolah, belum?” tanya Shinta menghampiriku.

“Mading? Emang ada apa di mading?” tanyaku polos.

Kemudian, Shinta menarik tanganku. Kita berdua berlari menuju segerombolan anak-anak yang sedang mengerubungi mading. Disana tertempel tiga pengumuman baru. Yang pertama adalah berbagai macam perlombaan pada saat Festival hari ulang tahun sekolah ke 15, yang kedua adalah kalender akadamik sekolah untuk sebulan ke depan dan yang terakhir adalah pengumuman khusus anak kelas 6 tentang tips menghadapi UN.

“Hahah, ya ampun, hanya mau menunjukkan ini saja?” tanyaku tertawa.

“Iihh, ini kan penting, Saaa.. hihihi.. ya sudah, yuk, ke kelas!” ajak Shinta.

Aku mengangguk. Tapi, kemudian langkahku terhenti. Aku pun berkata kepada Shinta untuk lebih dulu masuk ke dalam kelas. Aku kembali melihat ke dinding mading. Mataku tertuju pada sebuah pengumuman ‘LOMBA FESTIVAL ULANG TAHUN SEKOLAH KE-15’. Aku pun membaca dengan teliti apa saja lomba yang diadakan. Memang, aku kelas 6 dan sudah tidak bisa mengikuti lomba tersebut lagi.

Ternyata juga ada lomba bela diri taekwondo yang diadakan pada saat festival ulang tahun sekolah ke-15! Aku tersenyum, langsung teringat adikku semata wayang. Aku segera menuju lantai bawah, kemudian aku memasuki lorong depan ruang guru. Biasanya, brosur-brosur lomba ditaruh di lobby bila anak-anak ingin mengambilnya. Aku pun mengambil 2 kertas brosur, kemudian dengan perlahan, aku membacanya dengan teliti. Ternyata, lomba taekwondo itu adalah lomba yang paling spesial dari semua lomba yang lain. Karena, dengan mengikuti lomba ini, yang menjadi juaranya nanti, akan dikirim untuk melakukan lomba lagi untuk mewakili tingkat kota, jika menang akan mewakili provinsi dalam lomba taekwondo tingkat nasional.

KRIIIIIINGG!

            “Wah, sudah bel. Sebaiknya aku ke kelas dulu saja..,” sahutku.

 

“HAH?! AKU DIDAFTARKAN SAMA KAKAK?!!” teriak Abyan histeris.

“Iyaa, wiii, seru banget nih, pasti!” ujarku sambil terus menatapi brosur.

“IIIHH, KAKAK! AKU KAN ENGGAK MAU IKUT!!” teriak Abyan lagi.

Aku terdiam sambil menatap wajahnya yang polos. Kulihat wajahnya memerah. Kemudian, aku bertanya baik-baik kepadanya, masalah apa lagi yang dihadapi olehnya. Tadi pagi, kejadian sebelumnya terulang kembali. Abyan mogok sekolah, dan ia bahkan sudah melewatkan 3 kali ekskul taekwondo. Aku menjadi semakin bingung. Padahal, awalnya, Abyan sudah semangat dan tidak mogok sekolah lagi. Kenapa sekarang ia kembali seperti beberapa bulan yang lalu? Ah, aku harus menceritakan ini kepada mama dan papa, segera…

 

Hingga pada akhirnya, di suatu sore, Abyan berani menceritakan semua kejadian yang menimpanya di sekolah baru-baru ini. Aku, mama dan papa terkejut mendengarnya. Mama memeluk Abyan dengan erat. Ternyata, ini semua ulah teman Abyan yang iri terhadap ketekunan dan keahlian Abyan dalam bela diri taekwondo. Teman Abyan tersebut berharap dengan cara seperti ini akan membuat Abyan down dan kembali minder. Abyan pun menangis saat ia menceritakan semuanya. Abyan menjadi kurang percaya diri lagi, dan menjadi mogok sekolah, serta mogok ekskul. Ia pun berkata kepadaku, bahwa ia memintaku untuk membatalkan namanya untuk didaftarkan dalam lomba bela diri taekwondo. Aku mencoba menjelaskan semuanya, kalau anak tersebut hanyalah iri terhadap Abyan. Tetapi, Abyan tidak mau mendengarkan, dia bahkan menangis tersedu.

“Abyan, saat teman kamu mengejek kamu, yang kamu perlu lakukan adalah jangan dipedulikan, jangan dimasukkan ke dalam hati. Jika ada teman yang mengejek kamu, itu karena dia iri. JIka ada teman yang membicarakan kekuranganmu di belakang, itu tandanya sesungguhnya kamu ada di depan teman tersebut. Kamu mengerti, sayang?” papa menasehati.

“Iya, Abyan. Kan kakak sudah bilang, setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mungkin Abyan memiliki kekurangan dalam hal akademik, yaitu tidak menguasai bidang matematika dan punya gangguan diskalkulia. Tetapi, pasti ada kelebihannya, misalnya menguasai non akademik di bidang bela diri! Ini saatnya kamu menunjukkan kepada teman-teman, bahwa kamu juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki teman-temanmu!” sambungku sambil tersenyum, menatap adikku yang sedari tadi masih saja murung.

“Abyan, kamu itu adalah seorang anak yang pintar. Kamu harus percaya diri! Kalau kamu tidak mau merubah diri kamu menjadi lebih percaya diri, bakat dalam non akademik kamu tidak akan berkembang, dan kamu akan menjadi bodoh seperti yang dikatakan teman-temanmu.. Abyan, kamu itu spesial, jadi berikan prestasi terbaik, dan tunjukkan pada teman-teman..,” ujar papa memberi semangat.

Abyan terdiam. Kemudian, ia mengambil selembar kertas. Kertas itu adalah sebuah brosur yang diberikan olehku. Brosur dimana tertera berbagai macam lomba, termasuk lomba bela diri taekwondo.

Awalnya, Abyan menolak dan memintaku untuk membatalkan pendaftarannya. Tapi, seketika, Abyan mendekatiku. Kemudian ia berkata, “Aku ikut..,”.

 

“Semangat, Abyan! SEMANGAAAT! Variasi gerakan kaki, hiyaat! Iyak, bagus! Satu lagi! Lebih keras! AYO! Hanya segitukah kemampuanmu?! LEBIH KERAS!” teriak saboeum sambil terus membimbing Abyan melakukan gerakan-gerakan taekwondo.

DUK! DUK! DUK!

Abyan menendang sebuah alat, yaitu alat yang biasa dipakai untuk latihan taekwondo. Hari ini, ada latihan khusus untuk Abyan. Karena, ia sudah melewatkan 3 kali pertemuan ekskul taekwondo, sehingga harus diberi waktu tambahan untuk dirinya, agar menguasai betul semua pelajaran taekwondo yang tertinggal.

Waktu sudah menunjukkan pukul 15:45, tetapi Abyan masih saja semangat berlatih. Sejak aku, mama dan papa melakukan terapi diskalkulia di rumah kepada Abyan dan memberikan semangat untuknya dalam segala hal, termasuk dalam kegiatan taekwondo yang diikutinya, Abyan menjadi lebih bersemangat dan rasa percaya dirinya mulai terlihat kembali. Abyan masih memiliki tekad untuk ingin membuktikan kepada teman-temannya bahwa Abyan juga memiliki prestasi yang tak kalah dari teman-temannya yang pintar dalam bidang akademik.

Abyan tidak mau dibilang bodoh. Abyan sudah bosan, dan tidak ingin lagi mendengar teman-temannya mengoceh dan terus mengejeknya. Abyan tidak bisa tinggal diam, Abyan harus bisa membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi lebih baik dari mereka.

“Abyan, teknik taekwondo kamu sudah sangat bagus! Saboeum yakin, kamu bisa memenangkan pertandingan ini dan maju mewakili kota kita untuk bertanding lagi memperebutkan tiket ke tingkat provinsi. Semangat, Abyan!” ujar Saboeum.

Dari kejauhan, terlihat Ryan yang sedari tadi memperhatikan permainan Abyan. Ryan tersenyum tipis, dalam pikirannya sudah terlintas sebuah ide jahat yang akan ia lakukan kepada Abyan setelah ini.

August 13, 2018 by [email protected] 1 Comment

bab 4 (Balada Anak Pondok) #3

Kini, aku berjalan di jalan raya, untuk sampai ke terminal bis, aku harus naik angkot satu kali. Berdiri di pinggir halte untuk menunggu angkot jalur 3, jalur yang menuju ke terminal bis. Lama aku menunggu, sementara angkot jalur 4, 5 dan 6 berlalu lalang.

Lalu aku lihat dari kejauhan, angkot jalur 3 melintas, aku melambaikan tangan dan angkot itupun berhenti. Aku segera naik di atas angkot. Angkot melaju menuju terminal bis.

Di dalam angkot.. di malam hari… hanya ada sedikit penumpang, aku duduk di pojok, sementara di pojok sana ada seorang ibu-ibu setengah baya dengan seorang anak lelakinya, yang kira-kira berumur tujuh tahunan, seperti anak kelas satu SD.

Anak lelaki kecil itu di tangannya mengenggam sebatang permen lolipop besar berwarna cokelat, sepertinya enak sekali. Sambil makan permen lolipop dia memperhatikan aku yang baru saja naik kedalam angkot.

“mama, kapan nyampe rumah nenek?” tanya anak lelaki itu.

“bentar lagi nak, ini sudah hampir sampai terminal.” Jawab ibunya. Lalu melanjutkan, “nanti ayah yang jemput kita di terminal. Ini sudah sampe pondok tahfidz, kan, jadi sebentar lagi sampai terminal kita. “ jawab ibunya.

“pondok tahfidz mana ma?” tanya anak itu lagi.

“ya yang tadi itu… yang tempat mas nya yang itu naik angkot tadi.” Jawab ibunya sambil menoleh ke arahku dengan dagunya, menunjukkna ke anaknya.

“oh.. mas nya yang itu anak pondok ya ma?” tanya anak itu lagi.

“ nggak tahu, mungkin iya, kelihatan kan pakai gamis jubah. “ ibunya tersenyum manis dan menolehh ke arahku.

“anak pondok tahfidz situ ya mas?” tanya nya padaku.

Aku tergagap, “eh, iya, bu.” Jawabku.

“ oh, kok malam-malam keluar? Mau kemana?” tanya ibu itu lagi.

“pulang bu. Ada keperluan.” Jawabku. Ya iyalah, masak aku mau bilang, mau pulang, aku kabur ini… nggak mungkin laah…

Lalu ibu itu kembali menatap anaknya, “lihatlah, Fahman, mas nya itu anak pondok. Hafal quran, anak pinter. Besok fahman kalau sudah lulus SD masuk ke pondok tahfidz sana ya?” kata ibunya.

“ oke, ibu… aku juga ingin bisa menghafal quran. Kata pak guru, kalau hafal quran bisa dikasih jubah kalau di surga kelak, orangtuanya juga.” Jawab anak itu lagi. Lalu ibunya mengelus kepala anak itu dengan sayang, sementara anak itu masih juga mengemut permen lolipopnya di mulutnya.

Aku yang mendengarnya menjadi memerah mukaku, aku sangat malu. Anak itu bahkan tidak tahu bahkan aku tak se sholih itu. Aku anak yang kabur dari pondok. Tapi tentu saja, aku tak mungkin mengatakan hal itu. Tiba-tiba, pemandangan itu mengingatku pada mama. Aku kangen mama. Apakah aku kecil dulu juga sering dielus kepalanya sama mama? Aku ingin bertemu mama. Dan ingatanku kembali melayang ke rumah, dimana mama menyambutku pulang dari sekolah, dimana mama membuatkanku segelas susu, dimana mama memeluknya dengan sayang.

“ terminal.. terminal… habisss” teriakan sopir membuyarkan lamunanku. Aku turun dari angkot dan membayar ongkosnya. Ibu dan anak itu juga turun dan membayar ongkos lalu pergi menjauh.

Aku berjalan dengan gontai, dengan baju dan sarung seperti ini, munkin aku nampak lusuh. Aku berjalan menuju daerah pemberhentian bis menuju ke kotaku, Magelang. Dari Jogja ke Magelang akan menempuh dua jam perjalanan dengan angkutan bus umum.

Aku duduk menyendiri. Sepi. Di keramaian sebuah terminal. Terminal jombor jogja. Memandang suasana di sekelilingnya. Betapa ramai disini. Orang-orang yang lalu lalang, pedagang asongan yang berteriak menjajakan dagangan, tetapi anehnya, di dalam keramaian aku masih merasa sepi. Dimana sepi? Ternyata sepi itu ada disini. Di dalam hati.

#BERSAMBUNG…

August 13, 2018 by [email protected] 2 Comments

bab 4 (Balada Anak Pondok) #4

Aku meraba saku kantong di gamis jubahku, pakaian anak pondok, ku keluarkan dompet hitamku, aku buka, dan didalam dompet itu hanya ada satu lembar uang tersisa, dua puluh ribu rupiah. Hanya pas untuk ongkos pulang sampai ke rumah. Aku masukkan lagi uang itu di dompet lalu aku kantongi lagi dompetnya.

Aku masih menunggu, ketika sesuatu terasa ada yang aneh disini. Di dalam hati. Ya, Tuhan, aku bimbang lagi. Aku ragu. Dan maha galau telah menguasai hatiku. Kelau aku pulang, apa yang akan mama katakan padaku?

“hah? Apa, ammar??!! Kamu kabur? Sia-sia mama antar kamu ke pondok. Sia-sia semua yang udah mama lakukan buat kamu, Ammar, kalau akhirnya kamu kabur? Mau ditaruh mana muka mama, hah?” mungkinkah mama akan berkata begitu?

“hah? Kamu kabur, Ammar? Kamu pasti telah melakukan kesalahan besar sempai-sampai kamu harus kabur… saya tak akan bisa memaafkanmu, ammar!!” ih.. ngeri…

“mama nggak kenal sama kamu. Kamu bukan seperti anak mama yang dulu, yang begitu patuh, santun, sholih.” Mama terisak-isak.

“hah! Kamu nggak mau mondok? Tahu nggak sih, mama sudah bayar mahal. Dan kamu kabur begitu saja? Hellow?” duh… kalimat mana yang mau mama ucapkan kepadaku, coba?

Aku berpikir keras, mengapa aku mengira-ngira kata-kata apa yang akan mama ucapkan ketika nanti mama melihatku di depan pintu. Akan tetapi, apapun yang mama katakan, tentu bukan sesuatu hal yang baik bagiku. Lalu papa? Papa yang selama ini banyak diam, bagaimana jika papa ikut bicara? Apa keadaan tidak menjadi tambah runyam. Duh… aku jadi takut. Was-was. Khawatir. Galau.

Atau gimana kalau aku tidak jadi kabur saja? Gimana kalau aku balik lagi saja ke pondok? Oh my God… gimana nih??? Aku bingung….

Aku menimbang-nimbang, suasana keramainan terminal semakin membuatku nggak karuan rasanya. Malam semakin larut, sementara aku belum juga bisa mengambil keputusan. Keputusan untuk pulang atau kembali ke pondok.

Tapi, biar bagaimanapun, aku harus kuat. Aku anak lelalii, yang tak boleh lemah, tak boleh cengeng, tak boleh manja. Aku harus bisa mencari solusi, aku harus kuat, maka, aku harus kembali ke pondok.

Aku melirik jam tangan di pergelangan tangan kananku, jam dua belas malam. Hah.. selarut inikah? Jadi, ngapain saja aku dari tadi disini? Menunggu bus? Mana busnya? Aku sama sekali tak menyangka bahwa pergulatan batinku itu telah memakan berjam-jam waktuku.

Akhirnya, aku telah memmmutuskan langkahku. Hidup harus terus berjalan, maka, dengan segera, aku melangkahkan kakiku, keluar dati terminal bus. Sudah terlalu malam, sudah tidak ada angkutan menuju ke pondok, terpaksa, aku harus berjalan kaki kembali ke pondok.

=== ** ===

Akhirnya, aku menyusuri jalanan aspal, ditengah malam ini sendirian. Di tengah perjalanan, pikiranku melayang kemana-mana, pada mama, pada papa, pada para musrif di pondok, pada teman-temanku, pada adikku, pada siapa saja, orang-orang yang telah mewarnai dalam kehidupanku.

Hampir dua jam aku berjalan, sampailah aku di pondok. Sudah jam dua pagi. Semoga tidak ada yang tahu aku nyaris kabur dari pondok. Semoga tidak ada yang tahu aku masih diluar pondok pada jam segini. Kalau ketahuan gimana? mampuslah aku.

Aku menuju ke dinding belakang pondok, tempat dimana tadi aku kabur dengan melompat pagar. Kembali aku melompat pagar lagi untuk masuk ke dalam pondok. Awalnya memang seperti agak licin, tapi dengan berperih-perih tangan untuk meraih pegangan, akhirnya, aku berhasil melompati pagar. Hup, aku melompat turun.

Tapi begitu aku sampai bawah, didalam gedung belakang, tiba-tiba, ada sorot lampu senter menyala tepat mengenai mukaku.

“yup, ketahuan. Kamu Ammar… darimana saja? Kabur?” tanya orang itu. Seorang berperawakan tinggi besar, seorang musrif yang sedang berpiket jaga malam, namanya kak Rohis.

“hm… hm… enggak kak.. aku… aku…” jawabku terbata-bata.

#bersambung…