X Rindu… ( Puisi Rindu ) #8

X RINDU….

 

            “ Fit, Rin… gak kerasa ya, sekarang udah libur panjang” ujarku.

“ Iya Ra, gak kerasa ternyata ujian tuh udah berlalu” kata Fitri.

“ Iya, kita juga tau-tau udah makin banyak PR” kata Rindu.

“ Tapi kita tetep sahabatan kan” kata Rindu.

“ Ya iya lah Rin masa kita putus sahabat” kata Fitri.

“ Iya Rin, kita akan jadi sahabat selamanya” jawabku.

“ Udah, pulang yuk, besok lagi” kata Fitri.

“ Ayo” aku dan Rindu menjawab bersamaan.

Kami pun pulang ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya…….

 

“kita mau ngobrol apa nih hari ini..?” tanya Rindu.

“ Apa ya..?” tanya Fitri.

“ Kita ngobrol waktu dulu aja” ujarku.

“ Oh iya aku jadi inget, waktu dulu Rindu tuh malu-malu sama kita, iya kan Ra” kata Fitri.

“ Iya Fit, dia tuh gak mau kalo di ajak bareng” tambahku.

“ Ih, jangan ngomongin itu juga kali, kalian ini” kata Rindu.

“ Eh, aku jadi inget, kalian berdua itu punya banyak persamaan, teruus kalian juga kompak terus, emangnya kalian gak ngerasa, kali aja kalian itu sodara” kata Fitri.

“ Masa sih Fit, kalo kita sodara, pasit tiap lebaran bareng” jawabku.

“ Tau tuh Fitri ada-ada aja” kata Rindu kemudian.

Kemudian tiba-tiba…

“ Assalamualaium Ra..”

Aku spontan menoleh ke sumbar suara.

“ Lho bunda.. kok ke sini..?” tanyaku.

“ Bunda ke sini sama ibunya Rindu, ada yang mau bunda omongin sama kalian” kata bunda.

“ Hah..apa bun?” tanyaku.

“ Kita duduk yuk” kata bunda, yang kemudian duduk di kursi taman, diikuti olehku, Fitri Rindu, dan ibu Rindu.

“ Gini, Ra, kamu ngerasa gak sih, kalo kamu deket Rindu ada beda, rasanya beda gitu kayak kamu deket sama Fitri?” tanya Bunda.

“ Mm..iya bun, aku ngerasa, aku lebih ngerasa hangat sama Rindu” jawabku.

“ Iya tante, Rindu juga sama” kata Rindu.

“ Sebenarnya kalian itu ada hubungan, kalian itu adalah saudara kembar, tapi kalian tida kembar identic” kata bunda.

“ Hah… beneran, jadi selama ini Ra itu punya kembaran” tanyaku.

“ Iya Ra, kamu sama Rindu itu kembar” kata ibu Rindu.

“ Rin, kamu kembaran aku” aku langsung memeluk Rindu.

“ Tapi kalo kita kembar, orangtua kita siapa..?” tanya Rindu.

“ Orang tua kalian itu udah meninggal, waktu itu, ada kecelakaan, dan ada bayi kembar disana, bunda gak bisa rawat sendiri, jadi bunda juga minta tante Mia buat rawat bayi itu, bayi itu kalian” kata bunda.

“ Jadi gimana bun..Ra harus tinggal sama siapa?” tanyaku.

“ Bunda sama tante Mia, udah sepakat, kamu tetap tinggal sama bunda, Rindu tetap tinggal sama tante Mia” kata bunda.

“ Oh gitu” ucapku.

‘ BRUK ‘

“ Rindu…”

“ Penyakit Rindu kambuh lagi” kata Tante Mia.

“ Hah..penyakit, apa?” tanyaku.

“ Sebenarnya Rindu itu punya penyakit kanker, yang sudah menyerang setengah tubuhnya” kata Tante Mia lagi.

Tangisku pecah mendengar itu, aku menghambur memeluk bunda.

Kami segera berlari mengikuti Tante Mia yang menggendong Rindu, yang harus segera di bawa ke rumah sakit .

Sekitar 30 menit kami sampai di rumah sakit. Suster langsung menyambut kami dengan tempat tidur dorong untuk Rindu, kami mendorong tempat tidur itu menuju IGD.

Sementara Rindu di IGD, Tante Mia kembali ke rumah untuk mengambil baju Rindu.

Setelah hampir 45 menit, Tante Mia kembali.

“ Ratih..Fitri.. tadi tante liat di meja Rindu ada surat buat kalian dari Rindu” kata Tante Mia.

“ Oh, makasih tante” aku menghapus air mataku, dan membuka amplop berhiaska pita tersebut.

SAHABAT YANG RINDU MILIKI

 

Tak pernah ku menyangka memilikimu

Seperti hal yang berada di titik kesulitanku

Cara yang ku pikirkan

Untuk memilikimu

Namun tak sesulit itu

Kalian hadir dengan kepedulian

Kalian hadir dengan keikhlasan

Kalian hadir dengan kesetiaan

Tanpa ragu kalian menemaniku

Dengan semua yang kalian mampu

Kalianlah malaikatku

Yang datang hanya kepadaku

Melupakan tindakan kalian adalah hal bodoh

Perbuatan yang buruk sekalipun

Karena sesungguhnya

Tak pernah ku merasa kalian berbuat buruk

RINDU

Aku menangis membaca puisi hasil karya Rindu, begitu sayangnya Rindu padaku dan Fitri.

Kami menunggu hampir 2 jam, namun dokter belum kunjung keluar dari ruang IGD.

10 menit kemudian…..

“ Apakah ibu keluarganya Rindu..?” tanya dokter.

“ Iya benar, saya ibunya” kata Tante Mia.

” Maafkan saya ibu, kami sudah melakukan yang terbaik, tapi Rindu sudah menghadapi takdirnya, kami pihak rumah sakit turut berduka, saya permisi” kata dokter.

Tangis kami pecah dalam ruang tunggu ini, tak terbendung air mataku yang tak henti menangisi Rindu.

Walaupun kami memang tak bersama, tapi aku yakn Rindu akan selalu bersamaku.