Perjuangan Abyan (JUARA HATI MAMA)

Hari ini adalah hari kembali masuk sekolah setelah kemarin ada rapat guru di sekolah. Aku dan Abyan akan kembali masuk ke sekolah. Seperti biasa, Abyan mengeluh tentang teman-temannya di sekolah. Teman yang meremehkan dirinya, mengejek dan tidak mempedulikan kehadiran dirinya di kelas. Kami semua memberinya semangat. Pagi ini, Abyan sedikit berubah, dan hanya menangis sebentar saat hendak berangkat sekolah. Sesampai di sekolah, aku mengantarkan Abyan sampai di depan lorong kelasnya kemudian dia berjalan sendiri memasuki ruangan kelas.

Semenjak proses terapi beberapa minggu yang lalu, Abyan sedikit berubah. Di rumah aku, mama dan papa juga melatih Abyan untuk belajar memahami konsep sederhana matematika melalui permainan seru, melakukan berbagai hal sehari-hari di rumah yang selalu diselipkan oleh permainan logika matematika dan membelikan mainan yang berhubungan dengan matematika. Sedikit demi sedikit Abyan terlihat mulai mengerti tentang konsep dan logika matematika. Prosesnya memang tidak mudah, tapi karena kami semua konsisten dan bersungguh-sungguh, Abyan jadi seperti tidak sadar bahwa semua itu dilakukan agar dia bisa sedikit mengatasi kesulitannya. Tapi semua tidak menuntut apa-apa dari Abyan, hanya demi kepercayaan dirinya agar bisa tumbuh kembali. Tapi kalau aku lihat di pergaulan dia dengan teman-teman di sekolah, masih terlihat dia minder dan tidak percaya diri. Beberapa temannya juga ada yang mengejeknya. Kasihan, Abyan….

 

Siang harinya sepulang dari sekolah…

Sesampai di rumah, Abyan langsung masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan aku yang sudah berganti baju segera pergi ke ruang makan untuk makan siang. Siang ini mama memasak makanan kesukaanku, sup baksooooo…. Sudah tidak sabar menikmatinya. Tiba-tiba, terdengar suara bel rumah berbunyi.

TENG! TONG! TENG! TONG!

            Abyan keluar kamar dan berlari ke pintu depan dengan pandangan yang berbinar-binar. Aku penasaran, siapakah yang datang ke rumah kami. Ternyata ada beberapa anak laki-laki berdiri di depan pintu rumah, menunggu Abyan. Mereka mengajak Abyan bermain bola. Anak-anak tersebut tinggal dilingkungan perumahan kami.

 

BRAAAAKKKKK!!!

Terdengar suara pintu terbanting. Oh tidak! Aku lupa menutup pintu depan! Aku yang sedang tidur-tiduran di kamar langsung kaget dan terbangun, kemudian segera berlari menuju luar rumah. Di depan pintu, aku mendapati seorang anak laki-laki yang seumuran Abyan sedang memegang bola.

“Kamu siapa? Mana Abyan?” tanyaku sedikit panik.

“Oh, ini kakaknya Abyan, yah? Maaf, kak, tadi Abyan nendang bola kenceng banget sampe kena ke pintu rumah. Luar biasa tendangannya, ya, Abyan. Hehee.. Kakak lupa tutup pintu, ya? Maaf, aku sampe masuk-masuk rumah kakak..,” jawab anak tersebut.

Kemudian anak tersebut keluar dari pintu gerbang rumahku, langsung menghampiri Abyan dan teman-temannya. Aku hanya terdiam sambil menatap Abyan dan teman-teman sebayanya yang akrab mengobrol. Abyan menatapku sambil tersenyum. Tak lama, aku segera menutup pintu gerbang dan masuk ke dalam kamarku lagi.

 

Mulai hari ini aku pulang jam 15.30, karena ada tambahan khusus untuk pelajaran Matematika, IPA dan Bahasa Indonesia untuk kelas 6 SD, setiap hari. Akibatnya, Abyan harus menunggu aku selesai pelajaran tambahan. Sambil menunggu aku, Abyan melihat-lihat kakak-kakak kelasnya atau teman-teman yang sedang mengikuti ekskul yang biasa dilaksanakan dari jam 14.00 sampai jam 15.30. Biasanya, di kelas tambahan, siapa yang bisa menyelesaikan soal terlebih dahulu dengan benar, dapat pulang cepat dan lebih dulu. Hari ini, aku memiliki sebuah rencana yang sudah kususun semenjak kemarin sore. Aku akan usahakan selesai lebih cepat agar bisa memperhatikan keseharian Abyan di sekolah. Aku ingin melihat bagaimana interaksi Abyan yang cenderung bersikap minder bersama teman di sekolah. Aku tidak mau adikku yang mempunyai kekurangan menjadi korban bullying.

Semalam aku belajar sampai larut malam demi persiapan mengikuti pelajaran tambahan, agar bisa mengerjakan soal dengan cepat dan mudah. Siang ini aku selesai pertama dan keluar kelas lebih awal. Sekarang, waktu menunjukkan sekitar jam 14:45. Aku diam-diam menghampiri Abyan yang tengah memakan sepotong roti tawar berisi keju, dan berdiri di samping tembok di belakangnya. Abyan tidak menyadari kehadiranku.    Aku melihat dia sedang memperhatikan temannya yang sedang mengikuti ekskul taekwondo. Tiba-tiba, Abyan langsung menutup kotak makannya, kemudian mengikuti gerak-gerik bela diri teman-temannya. Aku tersenyum. Dia terlihat semangat dan berbinar matanya. Dalam hati, aku yakin bahwa suatu hari nanti Abyan akan menjadi anak yang luar biasa.

 

Hari ini adalah hari Minggu. Mama dan Papa libur kerja. Aku pun menceritakan kejadian yang terjadi semenjak 2 minggu yang lalu. Setiap hari Senin dan Kamis, anak-anak yang mengikuti ekskul bela diri akan berlatih di aula terbuka, sehingga siapapun dapat melihat, termasuk Abyan. Abyan mencoba untuk mengikuti gerakan-gerakan bela diri yang diberikan oleh pelatih bela dirinya tersebut. Sudah 2 minggu aku sengaja mengamati Abyan.

Sejak kecil, Abyan adalah anak yang sulit diatur. Anaknya super aktif, tidak bisa diam. Ada saja hal yang dilakukannya, terutama yang berhubungan dengan motorik kasar. Abyan juga cenderung sulit berkonsentrasi dalam durasi lama, sehingga ia kesulitan dengan pelajaran dan punya kelainan diskalkulia.

“Abyan, Papa dengar kabar dari kakak. Kamu suka ngikutin gerakan-gerakan bela diri dari ekskul taekwondo, yaa? Hayooo, kamu tertarik yaaa…? Mau ikutan juga? Kalau mau ikutan ekskul, bilang Papaaa,” ujar papa sambil bercanda dengan Abyan.

“Hihihi.. Iya, maaf, Paa, soalnya mereka keren-keren, jadi Abyan suka lihatnya dan ikutin juga deh. Tapi cuma ngikutin aja. Nggak bermaksud apa-apa..,” jawab Abyan polos.

Mama tersenyum. Kemudian aku menceritakan akhir-akhir ini memperhatikan Abyan sepulang sekolah. Aku mengatakan bahwa Abyan memang terlihat bisa mengikuti gerakan dengan baik, walaupun memang Abyan hanya mengamati dari jauh.

Mama pun berkata bahwa Mama akan mendaftarkan Abyan ekskul taekwondo. Tapi..

“Jangannn! Jangan, Ma!” teriak Abyan seketika.

Mama, Papa dan aku saling berpandangan satu sama lain dengan wajah bingung.

“Loh? Kenapa nggak mau? Katanya Abyan seneeeng..,” tanya Papa kebingungan.

“Eeemmm… Abyan takut kalau diejek-ejek lagi. Bagaimana kalau ternyata Abyan tidak bisa dan mereka mengejek?” tanya Abyan sambil memegang tangan Papa dengan sangat keras.

“Lhooo? Kan belum dicoba, Abyan.. Mengapa kamu jadi rendah diri begitu? Semenjak kamu menyadari bahwa kamu memiliki kekurangan dalam konsep matematika, kakak perhatikan kamu jadi nggak percaya diri. Saat itu memang kamu pernah diejek karena kekurangan kamu di bidang itu, tapi belum tentu mereka lebih pandai dari Abyan di bidang lain kan. Ayo, dicoba dulu! Semangat, dongg!” ujarku menyemangati.

Abyan pun sempat terdiam, berpikir sejenak. Setelah itu ia tersenyum kemudian mengangguk, tanda setuju diikutsertakan ekskul taekwondo. Aku, Mama dan Papa tersenyum melihat semangat Abyan yang luar biasa…

 

Hari ini, pelajaran tambahan di kelas 6 diliburkan. Karena guru pengajarnya ada rapat mempersiapkan kunjungan Dinas Pendidikan. Hari ini pula, kebetulan, Abyan juga masuk ekskul taekwondo untuk pertama kalinya. Aku mengantarkannya ke aula terbuka, kemudian aku duduk melihatnya di sebuah tempat duduk di dekat aula tersebut.

Kulihat Abyan sangat senang mengikuti ekskul taekwondo ini. Abyan sangat menikmati, bahkan rasa percaya dirinya kembali seperti semula. Walaupun, pada awalnya ia terlihat malu-malu. Tapi lama kelamaan, setelah pelatih taekwondo, atau biasa dipanggil saboeum tersebut membujuk Abyan dengan halus, akhirnya Abyan terlihat bersemangat dan mengikuti ekskul tersebut dengan penuh antusias.

Sempat sesekali Abyan dimarahi oleh sang saboeum, tetapi Abyan tidak menyerah, atau terlihat putus asa, tidak seperti beberapa temannya yang langsung menyerah jika tidak bisa suatu gerakan baru, kecapaian, atau terlihat malas. Tangan-tangan kecilnya, kaki-kaki mungil Abyan mulai memberikan jurus-jurus bela diri taekwondo. Aku tersenyum melihat adik kecilku tersayang sedang berlatih taekwondo. Sudah lama aku tidak melihat wajah tersenyum dan antusias seperti kali ini. Abyan, kamu spesial, aku yakin, Abyan kelak akan menjadi lebih baik, paling baik, dan menjadi kebanggan hati kami.

 

Sudah satu bulan Abyan berlatih taekwondo. Itu artinya, sudah 8 kali pertemuan, dan Abyan terlihat lebih bersemangat. Percaya dirinya sudah mulai bertambah. Dia menjadi pribadi yang kuat, lebih percaya diri dan tidak minder. Walau aku masih ragu, mungkin Abyan akan minder lagi, apabila diejek lagi oleh teman-teman sekelasnya karena kekurangan diskalkulianya? Atau kepercayaan dirinya akan tumbuh terus? Semoga saja.

 

Di suatu siang yang terik, setelah jam sekolah berakhir…

Abyan berjalan menghampiri kelasku yang sedang pelajaran tambahan. Tiba-tiba, di perjalanan Abyan menuju kelasku, seorang anak menghadangnya naik ke tangga untuk ke kelasku yang berada di lantai 3. Abyan kaget. Dia adalah teman sekelas Abyan. Dengan berani, Abyan bertanya.

“He-hei! Kenapa kamu menghalangiku seperti itu? Aku kan mau jemput kakakku di kelasnya. Ada masalah apa, ya?” tanya Abyan mulai memberanikan diri.

“Hei, heii. Gak usah sok pemberani gitu, deh, kamu! Abyan, kamu tuh sudah mencuri perhatian saboeum, beliau jadi suka sama kamu. Padahal kan kamu anak baru. Tapi jangan mimpi bisa mengalahkan aku yaaa…,” sahut anak itu dengan nada tinggi.

“Hah? Aku biasa aja kok…Aku..,” omongan Abyan dipotong.

“Halah! Udah jangan banyak omong. Kamu tuh bodoh di akademik! Hitung-hitungan saja kamu nggak bisa. Pasti kamu bagus di taekwondo terbaik cuma kebetulan aja! Lihat saja, nanti, nggak usah banyak berkhayal bisa hebat taekwondo!” sahut anak itu sambil meninggalkan Abyan.

Abyan tercengang mendengar kata-kata bodoh yang dikeluarkan oleh anak tersebut. Abyan jadi teringat bahwa dirinya memang tidak pandai di akademik, terutama di matematika. Abyan langsung duduk di anak tangga. Aku yang baru saja keluar kelas dan menuruni tangga, kaget melihat Abyan menangis di anak tangga sambil duduk. Aku langsung menanyakan sebabnya, kemudian menuntun Abyan berjalan pulang.

Sampai di rumah, Abyan tetap saja tidak mau berbicara. Bahkan, Abyan sudah diajak berbicara oleh Mama dan Papa. Sampai larut malam, Abyan hanya membisu dan mengunci dirinya di dalam kamar. Ada apa denganmu, Abyan? Kenapa kamu begini lagi?