Don’t Give Up, Abyan! (JUARA HATI MAMA)

“Abyan, kamu kenapa, sih, ngambek kayak gitu? Kamu sudah melewatkan 2 kali pertemuan taekwondo, lho! Kenapa, sih? Kayaknya kemarin-kemarin kamu biasa saja, tidak ada keluhan apa-apa. Kenapa, sih? Cerita aja sama kakak..,” tanyaku terus membujuk.

Abyan hanya terdiam. Sudah 2 kali pertemuan taekwondo ia lewatkan, sejak kejadian di tangga bersama teman sekelasnya Abyan. Abyan masih teringat kata-kata teman sekelasnya tersebut. Teman tersebut berkata bahwa Abyan itu sebenarnya tidak bisa apa-apa, dan menjadi seorang pemain taekwondo terbaik saat itu hanya sebuah kebetulan. Teman Abyan tersebut mengatakan bahwa dalam akademik saja Abyan tidak bisa apa-apa, jadi dalam non akademik pun Abyan akan bernasib sama.

 

“Eh, Alsa. Kamu udah liat mading sekolah, belum?” tanya Shinta menghampiriku.

“Mading? Emang ada apa di mading?” tanyaku polos.

Kemudian, Shinta menarik tanganku. Kita berdua berlari menuju segerombolan anak-anak yang sedang mengerubungi mading. Disana tertempel tiga pengumuman baru. Yang pertama adalah berbagai macam perlombaan pada saat Festival hari ulang tahun sekolah ke 15, yang kedua adalah kalender akadamik sekolah untuk sebulan ke depan dan yang terakhir adalah pengumuman khusus anak kelas 6 tentang tips menghadapi UN.

“Hahah, ya ampun, hanya mau menunjukkan ini saja?” tanyaku tertawa.

“Iihh, ini kan penting, Saaa.. hihihi.. ya sudah, yuk, ke kelas!” ajak Shinta.

Aku mengangguk. Tapi, kemudian langkahku terhenti. Aku pun berkata kepada Shinta untuk lebih dulu masuk ke dalam kelas. Aku kembali melihat ke dinding mading. Mataku tertuju pada sebuah pengumuman ‘LOMBA FESTIVAL ULANG TAHUN SEKOLAH KE-15’. Aku pun membaca dengan teliti apa saja lomba yang diadakan. Memang, aku kelas 6 dan sudah tidak bisa mengikuti lomba tersebut lagi.

Ternyata juga ada lomba bela diri taekwondo yang diadakan pada saat festival ulang tahun sekolah ke-15! Aku tersenyum, langsung teringat adikku semata wayang. Aku segera menuju lantai bawah, kemudian aku memasuki lorong depan ruang guru. Biasanya, brosur-brosur lomba ditaruh di lobby bila anak-anak ingin mengambilnya. Aku pun mengambil 2 kertas brosur, kemudian dengan perlahan, aku membacanya dengan teliti. Ternyata, lomba taekwondo itu adalah lomba yang paling spesial dari semua lomba yang lain. Karena, dengan mengikuti lomba ini, yang menjadi juaranya nanti, akan dikirim untuk melakukan lomba lagi untuk mewakili tingkat kota, jika menang akan mewakili provinsi dalam lomba taekwondo tingkat nasional.

KRIIIIIINGG!

            “Wah, sudah bel. Sebaiknya aku ke kelas dulu saja..,” sahutku.

 

“HAH?! AKU DIDAFTARKAN SAMA KAKAK?!!” teriak Abyan histeris.

“Iyaa, wiii, seru banget nih, pasti!” ujarku sambil terus menatapi brosur.

“IIIHH, KAKAK! AKU KAN ENGGAK MAU IKUT!!” teriak Abyan lagi.

Aku terdiam sambil menatap wajahnya yang polos. Kulihat wajahnya memerah. Kemudian, aku bertanya baik-baik kepadanya, masalah apa lagi yang dihadapi olehnya. Tadi pagi, kejadian sebelumnya terulang kembali. Abyan mogok sekolah, dan ia bahkan sudah melewatkan 3 kali ekskul taekwondo. Aku menjadi semakin bingung. Padahal, awalnya, Abyan sudah semangat dan tidak mogok sekolah lagi. Kenapa sekarang ia kembali seperti beberapa bulan yang lalu? Ah, aku harus menceritakan ini kepada mama dan papa, segera…

 

Hingga pada akhirnya, di suatu sore, Abyan berani menceritakan semua kejadian yang menimpanya di sekolah baru-baru ini. Aku, mama dan papa terkejut mendengarnya. Mama memeluk Abyan dengan erat. Ternyata, ini semua ulah teman Abyan yang iri terhadap ketekunan dan keahlian Abyan dalam bela diri taekwondo. Teman Abyan tersebut berharap dengan cara seperti ini akan membuat Abyan down dan kembali minder. Abyan pun menangis saat ia menceritakan semuanya. Abyan menjadi kurang percaya diri lagi, dan menjadi mogok sekolah, serta mogok ekskul. Ia pun berkata kepadaku, bahwa ia memintaku untuk membatalkan namanya untuk didaftarkan dalam lomba bela diri taekwondo. Aku mencoba menjelaskan semuanya, kalau anak tersebut hanyalah iri terhadap Abyan. Tetapi, Abyan tidak mau mendengarkan, dia bahkan menangis tersedu.

“Abyan, saat teman kamu mengejek kamu, yang kamu perlu lakukan adalah jangan dipedulikan, jangan dimasukkan ke dalam hati. Jika ada teman yang mengejek kamu, itu karena dia iri. JIka ada teman yang membicarakan kekuranganmu di belakang, itu tandanya sesungguhnya kamu ada di depan teman tersebut. Kamu mengerti, sayang?” papa menasehati.

“Iya, Abyan. Kan kakak sudah bilang, setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mungkin Abyan memiliki kekurangan dalam hal akademik, yaitu tidak menguasai bidang matematika dan punya gangguan diskalkulia. Tetapi, pasti ada kelebihannya, misalnya menguasai non akademik di bidang bela diri! Ini saatnya kamu menunjukkan kepada teman-teman, bahwa kamu juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki teman-temanmu!” sambungku sambil tersenyum, menatap adikku yang sedari tadi masih saja murung.

“Abyan, kamu itu adalah seorang anak yang pintar. Kamu harus percaya diri! Kalau kamu tidak mau merubah diri kamu menjadi lebih percaya diri, bakat dalam non akademik kamu tidak akan berkembang, dan kamu akan menjadi bodoh seperti yang dikatakan teman-temanmu.. Abyan, kamu itu spesial, jadi berikan prestasi terbaik, dan tunjukkan pada teman-teman..,” ujar papa memberi semangat.

Abyan terdiam. Kemudian, ia mengambil selembar kertas. Kertas itu adalah sebuah brosur yang diberikan olehku. Brosur dimana tertera berbagai macam lomba, termasuk lomba bela diri taekwondo.

Awalnya, Abyan menolak dan memintaku untuk membatalkan pendaftarannya. Tapi, seketika, Abyan mendekatiku. Kemudian ia berkata, “Aku ikut..,”.

 

“Semangat, Abyan! SEMANGAAAT! Variasi gerakan kaki, hiyaat! Iyak, bagus! Satu lagi! Lebih keras! AYO! Hanya segitukah kemampuanmu?! LEBIH KERAS!” teriak saboeum sambil terus membimbing Abyan melakukan gerakan-gerakan taekwondo.

DUK! DUK! DUK!

Abyan menendang sebuah alat, yaitu alat yang biasa dipakai untuk latihan taekwondo. Hari ini, ada latihan khusus untuk Abyan. Karena, ia sudah melewatkan 3 kali pertemuan ekskul taekwondo, sehingga harus diberi waktu tambahan untuk dirinya, agar menguasai betul semua pelajaran taekwondo yang tertinggal.

Waktu sudah menunjukkan pukul 15:45, tetapi Abyan masih saja semangat berlatih. Sejak aku, mama dan papa melakukan terapi diskalkulia di rumah kepada Abyan dan memberikan semangat untuknya dalam segala hal, termasuk dalam kegiatan taekwondo yang diikutinya, Abyan menjadi lebih bersemangat dan rasa percaya dirinya mulai terlihat kembali. Abyan masih memiliki tekad untuk ingin membuktikan kepada teman-temannya bahwa Abyan juga memiliki prestasi yang tak kalah dari teman-temannya yang pintar dalam bidang akademik.

Abyan tidak mau dibilang bodoh. Abyan sudah bosan, dan tidak ingin lagi mendengar teman-temannya mengoceh dan terus mengejeknya. Abyan tidak bisa tinggal diam, Abyan harus bisa membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi lebih baik dari mereka.

“Abyan, teknik taekwondo kamu sudah sangat bagus! Saboeum yakin, kamu bisa memenangkan pertandingan ini dan maju mewakili kota kita untuk bertanding lagi memperebutkan tiket ke tingkat provinsi. Semangat, Abyan!” ujar Saboeum.

Dari kejauhan, terlihat Ryan yang sedari tadi memperhatikan permainan Abyan. Ryan tersenyum tipis, dalam pikirannya sudah terlintas sebuah ide jahat yang akan ia lakukan kepada Abyan setelah ini.