Di Akhir Cerita … (24th Room)

Tidak terucap sepatah kata pun dari Katia dan Ayase. Benar-benar tidak disangka. Wajah Selena mendadak berubah menjadi penuh penyesalan. Katia tahu. Selena terpaksa melakukan ini. Ya, walau ia tidak tahu alasan sebenarnya, tapi dia sangat yakin bahwa Selena sangat terpaksa. Terlebih lagi, Selena tidak merencanakan kejahatan ini dari awal.

“Ayo? Apa yang akan kalian lakukan?” tanya Kak Prilly seraya tertawa mengejek, “hei … hei … aku pikir rencanaku salah. Seharusnya, aku tidak akan mengembalikan batu safir ini. Aku tidak perlu menunggu hingga Festival Musik tiba, lalu aku mengaktifkan batu safir ini. Tidak perlu menunggu lama. Detik ini juga, akan kuaktifkan batu safirnya.”

Kak Prilly pergi ke suatu tempat yang tak jauh dari situ. Ia berdiri di depan pohon mangga yang berjarak hanya 3 meter dari tempatnya berdiri. Tanpa disangka, Kak Prilly menekan batang pohon mangga tersebut, dan terbukalah sebuah pintu kecil di bawah tanah. Ia mengambil sebuah …

“Kotak! Itu kotak untuk menyembunyikan batu safir!” jerit Ayase. Ia mengeluarkan kotak tempat menyimpan batu safir. Kotak itu persis seperti kotak yang ada dalam video.

“Oh, ya. Betul sekali,” jawab Kak Prilly seraya tertawa jahat, “yang mengetahui dan bisa membuka tempat persembunyian kotak beserta batu ini hanyalah aku. Bahkan, Tanteku yang cerewet itu tidak mengetahuinya.”

Sudah pasti. Kak Prilly tahu cara menggunakan dan mengaktifkan batu tersebut. Perlahan-lahan, sekolah ini akan ditaklukan Kak Prilly, dan kemudian … semua penghuninya akan menjadi batu.

Tiba-tiba …

“Hentikan perbuatanmu!”

Katia dan Ayase terkejut ketika melihat segerombolan guru-guru, termasuk kepala sekolah—Miss Quelline—datang. Kak Prilly terkejut bukan main. Kemudian, datanglah Kak Sher beserta anggota kamarnya, yakni Elvara, Niaal, dan Lyfa. Wajah Kak Prilly berubah masam ketika melihat Sher dan anggotanya. Argh … kenapa aku lalai dengan mereka?!

Katia dan Ayase tidak mengerti. Bagaimana … bagaimana ini bisa terjadi? Wajah Selena berubah lebih pucat lagi. Bagaimana jika ia akan dipenjara? Apa kata Ibu dan Ayahnya?

“Kamu tidak bisa pergi kemana-mana lagi, Prilly!” bentak Miss Quelline, “ternyata, kaulah dibalik semua kejahatan ini. Kami tahu segala rencana yang telah kamu buat. Kamu memakai mereka sebagai umpan, dan juga Tantemu! Ini sungguh kejahatan Bluestone yang harus dihukum berat!”

Tiba-tiba, Kak Prilly menyeringai. Dia tertawa. Tawanya sangat seram. Semua guru langsung mundur perlahan, takut.

“Hahaha … hahaha … hahaha. Bagus … bagus sekali caramu mengkhianatiku, Sher. Setelah apa yang kuberikan padamu, kamu mengkhianatiku. Sungguh. Kamu adalah sasaran dan target empuk untuk batu ini melenyapkanmu. Aku sangat suka caramu berkhianat,” katanya dengan berselang beberapa detik kemudian, tawanya berhenti. Sorotan matanya menjadi tajam, “kalian bodoh. Kalian tidak tahu siapa aku sebenarnya. Aku bukanlah gadis bodoh bernama Prilly, yang baik, pintar, dan keren. Aku bukanlah sosok Prilly yang dapat dibanggakan.”

Apa maksudnya?

“Apakah kalian pernah menyangka, kalau aku seorang Blue Master dari Bluesniper? Jika iya, kalian benar. Aku adalah seorang Blue Master. Kalian mengenalnya?” Kak Pril, ah, bukan. Gadis itu menarik rambutnya. Rambut pendeknya berubah menjadi panjang. Ya, dia memakai wig! Dengan model dan panjang yang hampir sama dengan Kak Sher. Bedanya, warna yang dimilikinya adalah biru. Ia mencopot contact lens dari matanya. Semula, warna bola matanya cokelat, berubah menjadi hijau terang.

“Dia … dia Alliesza Sharonia! Blue Master dari Bluesniper!” seru Miss Cinthya kaget. Alliesza Sharonia adalah seorang penembak jitu—yang mendapat gelar master karena hebatnya dia dalam menembak—dari Bluesniper. Bluesniper adalah organisasi tembak-menembak yang terkenal hingga ke seluruh dunia. Untuk naik ke level selanjutnya sangat sulit dan butuh waktu yang lama. Blue Master sudah terkenal. Dan kini, ia berada di hadapan mereka.

“Yaa … aku Alliesza. Aku harus mengumpat dari publik selama tiga tahun demi misi ini. Dan aku tidak akan membiarkan kalian merusaknya dengan begitu saja. Apa kalian berani melawan seorang Blue Master? Kuberikan satu kesempatan untuk kalian. Biarkan aku memiliki dan menguasai sekolah ini, atau kalian akan berhadapan dengan pistolku?” Alliesza mengeluarkan pistol yang mengilap dari saku roknya. Itu adalah Golden Gun, pistol legendaris yang hanya bisa dimiliki setiap master di Bluesniper.

Semua terdiam. Tidak berani berkutik. Apalagi, setelah gadis itu memain-mainkan golden gun. Penembak jitu dengan golden gun … bisakah kita melawannya? Walau Miss Quelline tetap merebut batu itu, tidak akan berhasil. Baru satu dua langkah mendekat, golden gun akan mengeluarkan pelurunya.

Tidak ada yang bisa dilakukan. Dengan terpaksa, Miss Quelline memilih yang pertama. Alliesza yang licik itu tersenyum senang.

“Bagus, sekali. Pertama-tama, aku akan melenyapkan anggota kamar 12 ini. Tidak masalah bukan?”

Kak Sher mundur satu langkah. Entah apa yang akan dilakukan gadis itu, Kak Sher harus mencari perlindungan.

“Aku tidak mau membuang-buang peluru kesayanganku. Jadi …” Dia melirik batu safir, “kita pakai ini saja, yah?”

Alliesza mengangkat batu safir dari tangannya dengan tinggi-tinggi. Ia megucapkan sebuah mantra, dan batu safir bersinar dengan terang. Itu adalah … mantra untuk mengaktifkan dan mengabulkan permintaan dari batu safir, gumam Miss Quelline serius.

Batu safir bersinar semakin terang. Cahayanya sangat menyilaukan. Batu itu siap mengabulkan permintaan buruk Alliesza, sebelum Selena menggagalkannya. Selena mengambil batu safir itu dengan cepat.

Alliesza terkejut. Selena berlari menuju Miss Quelline. Karena hanya Miss Quelline yang tahu cara menggunakanya. Dan anehnya, saat batu itu beralih tangan, sinarnya menghilang. Alliesza pun tidak tinggal diam. Ia menggunakan sebuah pistol. Itu bukan golden gun. Itu soft gun, yang tidak mematikan, melainkan hanya melukai. Ia melakukannya dengan cepat, kemudian menembak kaki Selena yang berlari cepat. Selena terjatuh dan batunya terhempas. Walau hanya melukai, rasanya sakit sekali.

“Dan satu lagi, rekanku berkhianat.”

Walau jarak batu itu dekat dengan para guru dan Miss Quelline, tidak ada yang berani mengambilnya. Bahkan, jalan dengan satu langkah pun tidak.

Alliesza mendekat ke arah Selena. Ia menatap Selena, “jadi, kamu mengkhianatiku demi sebuah dukungan? Hei, dengar! Gadis bernama Selena yang manis dan imut ini, tidak seperti yang kalian bayangkan. Apakah kalian percaya, jika ia pernah mengambil sebuah barang berharga dari kantor gurunya? Mengambil barang dari anggota sekamarnya? Ia tidak sebaik yang kalian kira.”

Guru-guru mendesah. Mereka memang kehilangan benda-benda kecil milik mereka. Dan semua tuduhan itu menunjuk kepada Selena. Selena hanya diam dan meringis kesakitan. Alliesza kembali merebut batu safir yang terhempas itu. Tanpa kata-kata lagi, ia kembali mengucap mantra. Ia tidak mengurungkan niatnya untuk melenyapkan Sher, Elvara, Niaal, dan Lyfa.

Katia tersentak. Ada banyak guru dan staf disini. Bagaimana mungkin, keberanian kami tidak ada walau setitik pun? Jumlah kami banyak. Kami bisa menggunakan benda atau senjata apapun untuk melindungi diri!

Tepat setelah batin Katia berucap, batu safir yang berada di tangan Alliesza kembali direbut. Kali ini bukan dengan Selena, Katia, Ayase, atau para guru. Serentak, mereka semua menoleh ke arah loteng.

Banyak para murid Bluestone yang menonton dari arah loteng. Salah satu dari mereka lompat dan mengambil batu safir itu. Rupanya, kejadian ini telah diketahui para murid. Mereka menyusun rencana untuk mendapatkan kembali batu safir.

“Kembalikan batu itu!” jerit Alliesza, “aku akan menembakmu dengan golden gun jika tidak segera memberikan batu itu!”

“Coba saja kalau bisa,” sahut anak itu yang ternyata Luca. Ia bergelantungan dengan tali dari loteng yang satu, ke loteng lainnya. Ia menjulurkan lidah ejekan kepada Alliesza, “tidak mungkin kami akan membiarkan orang sepertimu menguasai sekolah ini, bahkan dunia.”

Alliesza yang kesal segera mengeluarkan golden gun tanpa aba-aba. Namun, saat ia hendak mengeluarkan, seseorang mengambil golden gun itu. Ia adalah Jennie Kylaa, murid dari kamar 32, “oh, tidak bisaa …!”

Detik itu, Miss Quelline bertindak. Ia tahu, Jennie sengaja mengulur waktu untuk memberikan kesempatan menangkapnya. Miss Quelline memeluk Alliesza dengan erat. Alliesza memberontak, namun ia tidak dapat melepaskannya. Tangannya berusaha berkutik mengambil salah satu pistol. Namun rupanya, Jennie telah mengambil semua pistolnya.

“Menyerahlah kamu, Alliesza! Kamu telah kalah!” sorak murid-murid Bluestone.

“Tidak! Aku tidak kalah! Seorang Blue Master tidak akan kalaaaah …!!!”

Tiba-tiba, polisi dari kepolisian Bluestone datang. Mereka memborgol tangan Alliesza dan membawanya untuk dihakimkan nanti. Sementara itu, seluruh murid berkumpul di aula. Luca memberikan batu safir kepada Miss Quelline.

Miss Quelline memberikan sambutan.

“Terima kasih sangat Miss ucapkan, atas bantuan dari seluruh murid-murid yang Miss cintai dan sayangi. Berkat kalian, masalah pada bluesapphire di sekolah kita terpecahkan. Awal mula, Miss hendak putus asa ketika batu tersebut berada di tangan Alliesza. Tapi, tanpa Miss sangka, kalian membantu dan merebut kembali batu itu. Semangat Miss kembali utuh,” kata Miss Quelline bangga, “sebagai ucapan terima kasih, Miss akan membuat pesta khusus untuk murid-murid.”

“Yeaaay …!” sorak murid-murid Bluestone dengan gembira.

Katia, dan Ayase menghampiri Kak Sher, Elvara, Niaal, dan Lyfa.

“Kakak …”

“Aku yang seharusnya minta maaf pada kalian,” potong Kak Sher tulus. Ia tersenyum kemudian mengulurkan tangan, “aku telah membohongi kalian, membentak kalian, memarahi kalian. Aku juga sudah bekerja sama dengan Alliesza. Semua itu aku lakukan untuk membalas jasanya yang tak terkira padaku. Dan pada akhirnya, aku harus mengkhianatinya.”

“Maafkan kami juga, Kak. Kami telah mencurigai Kakak dan kalian. Mungkin, karena kami yang terlalu terobesesi memecahkan masalah ini, hingga tanpa sadar kami telah bersikap egois,” kata Katia mewakilkan, “yang Kakak lakukan itu benar. Setidaknya, Kakak telah berusaha untuk menjadi baik. Dan berkat Kakak, para guru dan murid mengetahuinya.”

Katia dan Kak Sher berjabat, lalu saling berpelukan. Begitupula dengan Ayase, Elvara, Niaal, dan Lyfa.

“Maafkan kami, ya, telah bersikap dingin kepada kalian,” ujar Elvara lembut. Di lain sisi, ketiganya sangat lemah lembut dan baik. Tekanan dari Alliesza yang menyuruh mereka untuk bersikap dingin pada kami.

“Kalian mau kemana?” tanya Kak Sher begitu melihat Katia dan Ayase beranjak pergi.

“Kami mau ke UKS, Kak. Mau melihat kondisi Selena. Bagaimana pun juga, dia adalah sahabat kami,” jawab Ayase.

“Kami boleh ikut?” tanya Kak Sher. Katia dan Ayase mengangguk riang.

Mereka menengok keadaan Selena. Kakinya sedang diperban oleh Miss Britha—guru yang menjadi pengawas UKS—tapi Selena sedang meringis kesakitan di ranjang.

“Sakit sekali, terkena peluru dari soft gun itu,” celoteh Selena. Selena terdiam ketika melihat Katia dan yang lainnya datang.

“Hai, Sel. Bagaimana keadaanmu?” tanya Kak Sher ramah. Selena terlihat gugup.

“Um … masih agak sakit,” jawab Selena.

“Semoga lekas sembuh ya. Dan jangan lupa, ikut pestanya lusa. Oke?”

Selena yang gugup hanya tersenyum dan mengangguk.

Walau anggota kamar 12 dan Selena membantu Alliesza, hukuman mereka dimudahkan karena mereka membantu juga. Mereka hanya akan diberi pekerjaan rumah yang tidak begitu banyak.

****

Balon-balon sudah siap. Pita pun sudah ditempel dimana-mana. Pesta ini rupanya bukan hanya sebagai ucapan terima kasih, melainkan untuk memperingati hari ulang tahun Miss Quelline.

Kue tar cokelat yang bertingkat tiga itu didorong ke tengah aula. Ada tulisan di kue itu, yang tertulis THANK YOU, STUDENTS. Hari ini adalah hari ulang tahun Miss Quelline yang ke-37.

Semua murid dipakaikan topi ulang tahun, dan mendengar sambutan Miss Quelline. Setelah sambutan yang singkat, pesta pun dimulai. Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Miss Quelline, dan meniup terompet. Ternyata, kue yang dibeli bukan hanya satu. Melainkan tiga kue. Kue kedua bertingkat dua dan kue ketiga tidak bertingkat.

Senangnya hari ini, setelah kasus batu safir terselesaikan. Terjawab sudah semua misteri yang selama ini membingungkan. Dengan terjadinya kejadian ini, Miss Quelline lebih waspada dan menyimpan batu itu lebih aman.

****