bab 4 (Balada Anak Pondok) #4

Aku meraba saku kantong di gamis jubahku, pakaian anak pondok, ku keluarkan dompet hitamku, aku buka, dan didalam dompet itu hanya ada satu lembar uang tersisa, dua puluh ribu rupiah. Hanya pas untuk ongkos pulang sampai ke rumah. Aku masukkan lagi uang itu di dompet lalu aku kantongi lagi dompetnya.

Aku masih menunggu, ketika sesuatu terasa ada yang aneh disini. Di dalam hati. Ya, Tuhan, aku bimbang lagi. Aku ragu. Dan maha galau telah menguasai hatiku. Kelau aku pulang, apa yang akan mama katakan padaku?

“hah? Apa, ammar??!! Kamu kabur? Sia-sia mama antar kamu ke pondok. Sia-sia semua yang udah mama lakukan buat kamu, Ammar, kalau akhirnya kamu kabur? Mau ditaruh mana muka mama, hah?” mungkinkah mama akan berkata begitu?

“hah? Kamu kabur, Ammar? Kamu pasti telah melakukan kesalahan besar sempai-sampai kamu harus kabur… saya tak akan bisa memaafkanmu, ammar!!” ih.. ngeri…

“mama nggak kenal sama kamu. Kamu bukan seperti anak mama yang dulu, yang begitu patuh, santun, sholih.” Mama terisak-isak.

“hah! Kamu nggak mau mondok? Tahu nggak sih, mama sudah bayar mahal. Dan kamu kabur begitu saja? Hellow?” duh… kalimat mana yang mau mama ucapkan kepadaku, coba?

Aku berpikir keras, mengapa aku mengira-ngira kata-kata apa yang akan mama ucapkan ketika nanti mama melihatku di depan pintu. Akan tetapi, apapun yang mama katakan, tentu bukan sesuatu hal yang baik bagiku. Lalu papa? Papa yang selama ini banyak diam, bagaimana jika papa ikut bicara? Apa keadaan tidak menjadi tambah runyam. Duh… aku jadi takut. Was-was. Khawatir. Galau.

Atau gimana kalau aku tidak jadi kabur saja? Gimana kalau aku balik lagi saja ke pondok? Oh my God… gimana nih??? Aku bingung….

Aku menimbang-nimbang, suasana keramainan terminal semakin membuatku nggak karuan rasanya. Malam semakin larut, sementara aku belum juga bisa mengambil keputusan. Keputusan untuk pulang atau kembali ke pondok.

Tapi, biar bagaimanapun, aku harus kuat. Aku anak lelalii, yang tak boleh lemah, tak boleh cengeng, tak boleh manja. Aku harus bisa mencari solusi, aku harus kuat, maka, aku harus kembali ke pondok.

Aku melirik jam tangan di pergelangan tangan kananku, jam dua belas malam. Hah.. selarut inikah? Jadi, ngapain saja aku dari tadi disini? Menunggu bus? Mana busnya? Aku sama sekali tak menyangka bahwa pergulatan batinku itu telah memakan berjam-jam waktuku.

Akhirnya, aku telah memmmutuskan langkahku. Hidup harus terus berjalan, maka, dengan segera, aku melangkahkan kakiku, keluar dati terminal bus. Sudah terlalu malam, sudah tidak ada angkutan menuju ke pondok, terpaksa, aku harus berjalan kaki kembali ke pondok.

=== ** ===

Akhirnya, aku menyusuri jalanan aspal, ditengah malam ini sendirian. Di tengah perjalanan, pikiranku melayang kemana-mana, pada mama, pada papa, pada para musrif di pondok, pada teman-temanku, pada adikku, pada siapa saja, orang-orang yang telah mewarnai dalam kehidupanku.

Hampir dua jam aku berjalan, sampailah aku di pondok. Sudah jam dua pagi. Semoga tidak ada yang tahu aku nyaris kabur dari pondok. Semoga tidak ada yang tahu aku masih diluar pondok pada jam segini. Kalau ketahuan gimana? mampuslah aku.

Aku menuju ke dinding belakang pondok, tempat dimana tadi aku kabur dengan melompat pagar. Kembali aku melompat pagar lagi untuk masuk ke dalam pondok. Awalnya memang seperti agak licin, tapi dengan berperih-perih tangan untuk meraih pegangan, akhirnya, aku berhasil melompati pagar. Hup, aku melompat turun.

Tapi begitu aku sampai bawah, didalam gedung belakang, tiba-tiba, ada sorot lampu senter menyala tepat mengenai mukaku.

“yup, ketahuan. Kamu Ammar… darimana saja? Kabur?” tanya orang itu. Seorang berperawakan tinggi besar, seorang musrif yang sedang berpiket jaga malam, namanya kak Rohis.

“hm… hm… enggak kak.. aku… aku…” jawabku terbata-bata.

#bersambung…