bab 4 (Balada Anak Pondok) #3

Kini, aku berjalan di jalan raya, untuk sampai ke terminal bis, aku harus naik angkot satu kali. Berdiri di pinggir halte untuk menunggu angkot jalur 3, jalur yang menuju ke terminal bis. Lama aku menunggu, sementara angkot jalur 4, 5 dan 6 berlalu lalang.

Lalu aku lihat dari kejauhan, angkot jalur 3 melintas, aku melambaikan tangan dan angkot itupun berhenti. Aku segera naik di atas angkot. Angkot melaju menuju terminal bis.

Di dalam angkot.. di malam hari… hanya ada sedikit penumpang, aku duduk di pojok, sementara di pojok sana ada seorang ibu-ibu setengah baya dengan seorang anak lelakinya, yang kira-kira berumur tujuh tahunan, seperti anak kelas satu SD.

Anak lelaki kecil itu di tangannya mengenggam sebatang permen lolipop besar berwarna cokelat, sepertinya enak sekali. Sambil makan permen lolipop dia memperhatikan aku yang baru saja naik kedalam angkot.

“mama, kapan nyampe rumah nenek?” tanya anak lelaki itu.

“bentar lagi nak, ini sudah hampir sampai terminal.” Jawab ibunya. Lalu melanjutkan, “nanti ayah yang jemput kita di terminal. Ini sudah sampe pondok tahfidz, kan, jadi sebentar lagi sampai terminal kita. “ jawab ibunya.

“pondok tahfidz mana ma?” tanya anak itu lagi.

“ya yang tadi itu… yang tempat mas nya yang itu naik angkot tadi.” Jawab ibunya sambil menoleh ke arahku dengan dagunya, menunjukkna ke anaknya.

“oh.. mas nya yang itu anak pondok ya ma?” tanya anak itu lagi.

“ nggak tahu, mungkin iya, kelihatan kan pakai gamis jubah. “ ibunya tersenyum manis dan menolehh ke arahku.

“anak pondok tahfidz situ ya mas?” tanya nya padaku.

Aku tergagap, “eh, iya, bu.” Jawabku.

“ oh, kok malam-malam keluar? Mau kemana?” tanya ibu itu lagi.

“pulang bu. Ada keperluan.” Jawabku. Ya iyalah, masak aku mau bilang, mau pulang, aku kabur ini… nggak mungkin laah…

Lalu ibu itu kembali menatap anaknya, “lihatlah, Fahman, mas nya itu anak pondok. Hafal quran, anak pinter. Besok fahman kalau sudah lulus SD masuk ke pondok tahfidz sana ya?” kata ibunya.

“ oke, ibu… aku juga ingin bisa menghafal quran. Kata pak guru, kalau hafal quran bisa dikasih jubah kalau di surga kelak, orangtuanya juga.” Jawab anak itu lagi. Lalu ibunya mengelus kepala anak itu dengan sayang, sementara anak itu masih juga mengemut permen lolipopnya di mulutnya.

Aku yang mendengarnya menjadi memerah mukaku, aku sangat malu. Anak itu bahkan tidak tahu bahkan aku tak se sholih itu. Aku anak yang kabur dari pondok. Tapi tentu saja, aku tak mungkin mengatakan hal itu. Tiba-tiba, pemandangan itu mengingatku pada mama. Aku kangen mama. Apakah aku kecil dulu juga sering dielus kepalanya sama mama? Aku ingin bertemu mama. Dan ingatanku kembali melayang ke rumah, dimana mama menyambutku pulang dari sekolah, dimana mama membuatkanku segelas susu, dimana mama memeluknya dengan sayang.

“ terminal.. terminal… habisss” teriakan sopir membuyarkan lamunanku. Aku turun dari angkot dan membayar ongkosnya. Ibu dan anak itu juga turun dan membayar ongkos lalu pergi menjauh.

Aku berjalan dengan gontai, dengan baju dan sarung seperti ini, munkin aku nampak lusuh. Aku berjalan menuju daerah pemberhentian bis menuju ke kotaku, Magelang. Dari Jogja ke Magelang akan menempuh dua jam perjalanan dengan angkutan bus umum.

Aku duduk menyendiri. Sepi. Di keramaian sebuah terminal. Terminal jombor jogja. Memandang suasana di sekelilingnya. Betapa ramai disini. Orang-orang yang lalu lalang, pedagang asongan yang berteriak menjajakan dagangan, tetapi anehnya, di dalam keramaian aku masih merasa sepi. Dimana sepi? Ternyata sepi itu ada disini. Di dalam hati.

#BERSAMBUNG…